Dana BUMDes Taman Jaya Dipertanyakan

  • Bagikan

Suaraindo.id- Desa Taman Jaya Kecamatan Kotabumi Selatan Tahun 2017 menganggarkan Sebesar Rp 150.000.000,00 Dana Desa (DD) untuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Namun disayangkan BUMDes Taman Jaya macet dari Tahun 2019 sampai sekarang bak hilang ditelan bumi.

Kades Taman Jaya, Burhan saat dikonfirmasi di Kantor desa, mengatakan diakhir tahun dana itu baru dikucur pada Desember dan langsung ditransfer langsung kerekening BUMDes. Adapun kegiatan BUMDes hasil musyawarah bersama itu simpan pinjam, usaha mikro, dan perdagangan.

Burhan, menjelaskan ada berapa persen dari dana BUMDes itu digunakan untuk operasional BUMDes seperti membeli komputer, dan alat tulis kantor, serta honor pengelola BUMDes sebesar 50.000 per orang per bulan.

“Anggaran BUMDes selain dialokasikan untuk peralatan kantor, dialokasikan juga sebesar 30% atau Rp 30.000.000,00 simpan pinjam, sisanya 30% untuk usaha mikro peralatan pertanian seperti pupuk, obat, maupun gas,” jelasnya. Rabu (27/1/2021).

Ia mengatakan diitahun pertama berjalan sudah ada omset yang disetor kedesa sebesar Rp 10.000.000,00. Namun tahun kedua dan sampai saat ini macet.

“Pengurus BUMDes saat ini sudah banyak yang mengundurkan diri. Permasalahannya bukan karena uangnya dimakan mereka, tapi terkadang teman-teman media dan LSM yang datang mereka lagi mulai belajar merintis sudah ditakuti mereka ketakutan akhirnya mengundurkan diri semuanya,” ungkap Burhan.

Mengenai persoalan BUMDes yang macet itu, Burhan sudah melaporkan kepihak BUMDes Kabupaten.

“Kata orang bagian BUMDes yang ada di kabupaten bila memang begini bekukan saja kata pihak PMD.”

Burhan, menyampaikan dana BUMDes masih ada sampai saat ini sisanya. Namun masih di rekening BUMDes. Pengelola BUMDes Juhdi dan Bendahara Sesliviana.

“Untuk sisa anggaran BUMDes saya tidak tahu,” ucapnya.

Atas Informasi dari Kades tersebut, awak media pun mencoba mengkonfirmasi hal itu ke ketua BUMDes namun yang bersangkutan tidak ada di rumah. Sementara saat awak media ingin mempertanyakan perihal hal itu kepada Bendahara, namun yang bersangkutan juga tidak berada di rumah.

Awak media pun mencoba untuk berkomunikasi dengan suami bendahara BUMDes mengatakan tabung gas ada sebanyak 200 tabung. Tetapi awak mendapati tumpukan tabung gas kosong berkisar 40an.

“Sisanya masih dipinjam sama warung-warung di dusun V dan VI,” kilahnya.

Untuk diketahui BUMDes adalah usaha desa yang dikelola oleh Pemerintah Desa, dan berbadan hukum, serta sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa setempat guna meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mengoptimalkan potensi sumber daya alam untuk kebutuhan masyarakat, serta menjadi alat pemerataan dan pertumbuhan ekonomi desa.

Seperti disampaikan WN (32) warga setempat mengatakan,  bahwa pada tahun 2019 BUMDes di desanya berjalan lancar seperti dibidang Gas Elpiji hal itu sangat menunjang perekonomian serta menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Namun selang beberapa bulan berjalan, tiba-tiba hilang tidak ada kejelasan hingga sampai saat ini.

“Tadinya berjalan lancar mas,  tiba-tiba hilang kayak pakum dan saat ini kami dengar tabung gasnya banyak hilang dan dananya macet,” ujarnya.

Dijelaskannya, sejak mulai pakum  pengurus BUMDes pun banyak yang mengundurkan diri.

“Kalau namanya gas elpiji tidak akan pakum mas, sebab itu adalah kebutuhan warga. Setiap warga yang menukarkan gas kosong ke yang berisi pasti dibayar berapa harganya tidak akan di hutang (Kasbon). Namun tiba-tiba pakum begitu saja hal itu yang kami sayangkan kepada pihak bumdes,” ungkapnya.

  • Bagikan