Harga Cabai Rawit Tembus Angka Rp90 Ribu/Kg di Bandung

  • Bagikan

Suaraindo.id—Pasca peringatan Natal dan Tahun Baru 2021, masih tersisa pahitnya perkonomian masyarakat kecil yang seharian bekerja serabutan. Untuk membeli lauk seperti tahu dan tempe hampir tidak mampu. Apalagi untuk membeli daging sapi atau daging ayam, hanya dalam angan – angan belaka.

Paska perayaan Natal dan Tahun Baru 2021 mengisahkan cerita pilu bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah, lantaran harga komoditi bahan pokok seperti sayuran harganya selangit dan harga cabai rawit merah nembus ke harga Rp. 90.000/kg.

Bukan itu saja, harga tahu dan tempe pun ikut melambung. Yang dalam satu kemasan plastik berisi tahu 10 biji seharga Rp. 4.000 menjadi Rp. 8.000 sementara harga tempa berpariatif besar dan kecilnya gulungan tempe dengan plastik atau daun dadakan.

Harga komoditi di pasar Majalaya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung seperti cabe rawit merah Rp. 90.000/kg, cabai rawit hijau Rp. 60.000/kg, cabai kriting merah Rp. 70.000/kg, cabai kriting hijau Rp. 50.000/kg, kol bulat pengalengan Rp. 10.000/kg, bonteng (timun) Rp. 12.000/kg, Wortel Rp. 8.000/kg sedangkan harga tomat masih standar di harga Rp. 4.000/kg, burkol Rp. 16.000/kg, burkoli Rp. 12.000/kg dan kentang Rp. 15.000/kg.

Salah satu pedagang sayuran Iim (40) ketika ditemui suaraindo.id di lapak jualannya Rabu (6/1/2021) dini hari mengatakan. Kenaikan harga komoditi sayuran berdampak pada lesuh nya daya beli, dan menurun tajam omset penjualan.

“Naiknya barang – barang ini dikarenakan kelangkaan pasokan barang seperti cabe, bonteng dan kol. Tiga jenis sayuran ini dalam kurun waktu menjelang Natal sudah melambung harganya,” katanya.

Sementara itu pengakuan pedagang daging ayam potong Iing (35) asal Desa Dukuh Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung menuturkan hampir 1 bulan kabelakang harga daging ayam berangsur naik hampir setiap hari. Saat ini harga daging ayam potong bersih Rp. 36.000/kg padahal harga sebelumnya Rp. 28.000/kg.

“Harus dibilang apa lagi jika harga naik terus dan sudah barang tentu dengan naiknya harga berpengaruh pada daya jual beli merosot tajam, ditambah masa pandemi Covid-19 banyak masyarakat hidup menjadi sengsara akibat sulitnya mencari mata pencaharian,” terang Iing.

Pantauan Suaraindo.id dilapangan dari sumber para petani sayuran di desa Randukurung Kecamatan Samarang Kabupaten Garut. Naiknya harga disebabkan faktor cuaca musim hujan sehingga sejumlah jenis sayuran rusak akibat diserang hama daun dan pohon sehingga layu dan mati.

Selain itu harga pupuk dan intektisida tanaman harganya hampir tidak sebanding dengan penghasil yang diperoleh dari hasil panen.

“Obat semprot untuk daun dan batang serta buahnya sulit didapat sekali ada harganya dua kali lipat, saya pun mengharapkan kepada dinas terkait bisa mengatasi keluhan masyarakat,” ucap Akang Asef (45) mengakhiri pertemuan. .

  • Bagikan