Data WRI: Hutan Tropis Dunia Kian Berkurang

  • Bagikan
Pengunjung berjalan-jalan dan bersepeda di Taman Nasional Tijuca di Rio de Janeiro, Minggu, 28 Februari 2021.

Suaraindo.id—Dunia kehilangan hutan tropis seluas negeri Belanda pada tahun 2020, tahun kedua berturut-turut yang memburuk, menurut angka terbaru dari organisasi penelitian dan advokasi World Resources Institute (WRI).

Kehilangan hutan itu ikut mendorong terjadinya perubahan iklim dan sebaliknya juga didorong perubahan iklim karena kondisi panas dan kering berkontribusi pada hilangnya hutan di beberapa bagian dunia.

Beberapa titik terang muncul. Laju kehilangan hutan menurun di Indonesia dan Malaysia selama empat tahun berturut-turut. Namun secara keseluruhan, hilangnya 4,2 juta hektar hutan primer yang tidak dirambah meningkat 12 persen dari tahun 2019.

Hutan berkurang

Daerah tropis kehilangan total 12,2 juta hektar hutan primer dan sekunder yang tumbuh kembali pada tahun 2020, kata data WRI. Kerugian yang dikeluarkan setara dengan emisi tahunan dari 570 juta mobil, lebih dari dua kali jumlah kendaraan di jalan-jalan raya di Amerika Serikat.

Brasil mengalami penurunan terbesar. Hutan seluas 1,7 juta hektar yang hilang merupakan peningkatan 25 persen dari tahun sebelumnya dan lebih dari tiga kali lipat dari kehilangan hutan tertinggi di negara berikutnya, Republik Demokratik Kongo (DRC).

Bolivia berada di urutan ketiga. Seperti di Brasil, sebagian besar kehilangan hutan terjadi karena pembakaran yang dilakukan untuk membuka lahan pertanian, tetapi tidak terkendali karena kondisi panas dan kering.

Dalam kabar baik yang jarang terjadi, laju kehilangan hutan di Indonesia melambat 17 persen pada tahun 2020, turun dari posisi ketiga dan menempati urutan keempat untuk pertama kalinya dalam 20 tahun pencatatan WRI.

Cuaca yang lebih basah dan harga minyak sawit yang lebih rendah, komoditas yang mendorong deforestasi, kemungkinan berperan dalam menurunnya laju itu.

Tetapi setelah kebakaran dahsyat pada tahun 2015, pemerintah juga memberlakukan tindakan yang berkontribusi, kata para ahli. Tindakan itu termasuk pemantauan dan pencegahan kebakaran, pembatasan pembukaan perkebunan kelapa sawit baru dan reformasi agraria yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan.

Harga minyak sawit telah pulih, sehingga berpotensi menekan industri untuk berkembang lagi, kata Manajer Komoditas dan Bisnis Berkelanjutan Andika Putraditama di kantor WRI Indonesia.

“Dua hingga tiga tahun ke depan akan menjadi ujian sesungguhnya apakah Indonesia akan mampu mempertahankan kinerjanya dalam mengurangi deforestasi,” ujar Andika. [lt/ab]

  • Bagikan