Sekilas Info

Ekonomi

BBM Mengalir Kembali di Jaringan Pipa di Wilayah Timur AS

Sebuah pom bensin di Silver Spring, Maryland kehabisan pasokan BBM, Kamis, 13 Mei 2021. (AP Photo/Manuel Balce Ceneta)

Suaraindo.id---Setelah kesulitan distribusi selama enam hari yang mendorong kepanikan di pom-pom bensin di beberapa daerah, BBM kembali mengalir melalui sebuah jaringan pipa di wilayah timur AS yang lumpuh akibat serangan siber yang dituduh dilakukan oleh peretas Rusia yang dikenal sebagai DarkSide.

“Jangan panik,” kata Presiden AS Joe Biden dalam imbauannya kepada para pengendara hari Kamis. “Ini situasi sementara. Jangan membeli bensin melebihi yang Anda perlukan dalam beberapa hari mendatang.”

Presiden juga memperingatkan para pemilik pom bensin agar tidak terlibat aksi menaikkan harga.

“Jangan berusaha mengambil keuntungan dari konsumen dalam masa seperti ini,” katanya dari Ruang Roosevelt di Gedung Putih. “Tidak seorang pun yang boleh berusaha memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan keuntungan finansial.”

Colonial Pipeline “telah membuat kemajuan substansial dalam mengoperasikan kembali secara aman jaringan pipa kami dan dapat melaporkan bahwa pengiriman produk telah dimulai di sebagian besar pasar yang kami layani,” kata perusahaan itu dalam suatu pernyataan Kamis pagi. “Pada tengah hari, kami proyeksikan bahwa setiap pasar yang kami layani akan menerima produk dari sistem kami.”

Jaringan pipa sepanjang 8.850 kilometer itu mengalirkan sekitar 380 juta liter bensin, solar dan bahan bakar jet setiap hari. Karena panjangnya jaringan pipa, “kita tidak akan merasakan langsung efeknya di pom bensin. Ini tidak seperti kalau kita menyalakan lampu,” kata Biden hari Kamis.

Reuters, Jumat pagi (14/5) menyatakan badan penyiaran publik Jepang NHK telah melaporkan bahwa DarkSide juga dituduh melancarkan serangan siber terhadap perusahaan Jepang Toshiba divisi Eropa.

Colonial Pipeline membayar hampir 5 juta dolar kepada peretas Jumat lalu, kata Bloomberg News, yang menyatakan bahwa sebagai imbalan atas pembayaran tebusan dalam bentuk mata uang kripto, perusahaan itu menerima perangkat untuk membuka sandi bagi dokumennya yang diacak, yang tidak berfungsi.

Perusahaan itu belum berkomentar mengenai apakah tebusan itu dibayarkan.

“Saya tidak punya komentar mengenai itu,” kata Biden ketika ditanya wartawan pada hari Kamis mengenai apakah ia telah diberi pengarahan mengenai pembayaran uang tebusan. “Saya tidak tahu apakah uang tebusan dibayarkan,” kata Brandon Wales, penjabat direktur di Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur.

Menanggapi pertanyaan wartawan, Biden mengatakan bahwa menurut laporan Biro Penyelidik Federal, Presiden Rusia Vladimir Putin atau pemerintah Rusia tidak terlibat dalam serangan siber jahat terhadap Colonial Pipeline. [uh/ab]

Penulis: VOA
Editor: Tim Redaksi

Baca Juga