Anak Adalah Amanah yang Dititipkan pada Ayah

  • Bagikan
Dua anak memainkan ponsel di dalam sebuah rumah di kawasan padat penduduk di Jakarta (foto: ilustrasi). Remaja yang tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah cenderung rentan terhadap berbagai masalah sosial.

Berbagai data menunjukkan sebagian besar remaja yang bermasalah berasal dari keluarga-keluarga tanpa kehadiran ayah yang bisa menjadi teladan. Statistics on Fatherless Children in America melaporkan bahwa 63 persen dari seluruh remaja yang melakukan tindakan bunuh diri berasal dari keluarga-keluarga tanpa ayah.

Persentase itu semakin tinggi dalam berbagai masalah lainnya, termasuk 90 persen remaja melarikan diri dari rumah, 85 persen penderita gangguan perilaku, 71 persen remaja putus sekolah lanjutan atas, 70 persen penghuni lembaga pemasyarakatan remaja, 75 persen pengguna narkoba, dan 75 persen pelaku serangan secara fisik atau seksual.

Dr. Livia Iskandar, M.Sc. adalah psikolog dan Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) serta pendiri Yayasan Pulih. Perempuan yang pernah tinggal di Amerika ini mengatakan bahwa peran dan keterlibatan ayah dalam keluarga sangat penting karena dari segi psikologis kita bisa melihat faktor risiko atau faktor pelindung. Kalau ayah terlibat dalam pengasuhan anak dan dalam kegiatan anak maka itu merupakan faktor pelindung atau protective factor di mana si ayah secara psikologis hadir untuk keluarganya.

Menurutnya, seorang ayah bisa hadir secara fisik tetapi belum tentu hadir secara psikologis sehingga anak-anaknya terutama anak laki-laki tidak mendapatkan role model (teladan) yang baik tentang bagaimana peran ayah dalam keluarga.

“Penting untuk kita bahas bagaimana meningkatkan peran ayah dalam pengasuhan dalam keluarga, dalam berbagi tanggung jawab dengan istrinya, dan bagaimana hal itu sebenarnya meningkatkan emotional intelligence – intelejensi secara emosi – pada anak, dan kalau hal tersebut tidak ada, apalagi kalau misalnya role model-nya buruk, maka seringkali masyarakat yang harus menanggung akibatnya,” jelasnya.

Livia menyoroti dampak buruk yang harus ditanggung masyarakat karena ketidakhadiran ayah dalam keluarga, terutama pada anak laki-laki dengan memberikan contoh penghuni lembaga pemasyarakatan yang mayoritas laki-laki. “Ada yang harus kita perbaiki dari pendidikan, baik di keluarga maupun di sekolah, dan di masyarakat tentang bagaimana peran laki-laki karena, kenapa violent offenders, pelaku kekerasan, rata-rata laki-laki,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Agustin Hanafi, Lc., M.A., Ketua Program Studi Magister Hukum Keluarga di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, berpendapat bahwa seorang ayah adalah pembangun peradaban sehingga kehadiran sosok ayah sungguh diharapkan dalam sebuah keluarga.

“Jadi, kenapa perceraian itu diperketat ataupun dipersulit? Karena yang paling menderita akibat ini adalah anak yang akan kehilangan figure atau sosok ayah maupun Ibu. Seorang anak menjadi tangguh, menjadi kuat karena adanya peran ayah yang begitu luar biasa dalam sebuah keluarga.”

Menurut Dr. Agustin, seorang ayah bisa menanamkan banyak hal pada anak-anaknya, antara lain sikap kedisiplinan dan mengarahkan anak menjadi tangguh karena, katanya, “kalau ibu perannya sebagai pemberi tender love, sedangkan ayah itu tough.”

Dia juga menekankan pentingnya peran ayah bagi anak perempuan, terkait fakta bahwa banyak perempuan menjadi korban karena pada mereka kurang ditananamkan “jiwa ksatria,” bahwa kepada mereka hanya diajarkan nilai-nilai khas untuk perempuan, misalnya perempuan biasanya pemalu, mesti berbicara pelan, dan jalan pun harus sesuai dengan cara tertentu, sehingga ketika menjadi korban dia tidak berdaya.

“Coba kalau dia misalnya ada seorang ayah yang menanamkan (dia) harus berani, harus tangguh, tidak boleh lemah, maka anak tentu akan terlindungi lebih bagus. Kemudian secara emosional dia tentu lebih stabil, punya rasio yang bagus, yang lebih kuat, dan secara akademik si anak merasa bahwa sang ayah adalah seorang supporter. Jadi, kalau anak dekat dengan ayah, otomatis ia tahan dari godaan, lebih matang,” ungkapnya.

Dr. Agustin memberikan contoh dari hasil penelitian yang mendapati bahwa anak perempuan yag dekat dengan sosok ayah lebih tahan dari gangguan, rayuan, dan godaan laki-laki yang kurang bertanggung jawab karena dia sudah biasa dirangkul, dipeluk, dan dipuji oleh ayahnya. Dia menandaskan bahwa sosok ayah harus banyak hadir dan sungguh diharapkan dalam sebuah keluarga, dan “kita tidak boleh mengatakan bahwa ibu yang paling banyak beperan, tapi peran itu semestinya dipikul bersama dan hendaknya kita menyadari bahwa satu sama lain harus saling melengkapi.” Kalau seorang anak tidak memiliki orang tua yang lengkap, ungkapnya, maka dia akan melampiaskan sesuatu ke dunia yang lain, dan karenanya suami maupun istri perlu memahami peran masing-masing.

“Tidak bisa urusan rumah itu urusan ibu dan anak semuanya urusan ibu, (misalnya) kalau menangis itu urusan ibu, tidak bisa demikian, tetapi bagaimana sosok ayah yang selalu hadir bersama anak. Kalau misalnya kita berolahraga, jangan hanya mencari kesenangan sendiri, tetapi mengajak anak. Jadi, suatu saat anak akan mengatakan ‘saya bisa seperti ini karena ayah saya yang hidupnya disiplin, karena ayah saya yang selalu membangunkan saya setiap pagi, saya akan kenang selamanya.’ Nilai-nilai itulah yang diharapkan. Makanya kalau bangun pagi pun yang membangunkan itu adalah ayah bukan ibu,” tambahnya.

Di pihak lain, Dr. Livia juga menyoroti perlunya para pemangku kepentingan bekerja lebih banyak agar anak-anak, terutama laki-laki, tidak menjadi pelaku kekerasan, dan membiasakan mereka pada hal-hal yang dialogis, yang penuh kasih sayang.

Macho boleh, tetapi bukan kemudian menggunakan kekerasan. Itu yang menjadi tantangan karena tetap saja di lembaga-lembaga pemasyarakatan itu kenapa mayoritas laki-laki. Jadi, ada yang salah yang perlu kita ubah.”

Berdasarkan pengamatan, survei dan konsultasi yang dilakukan oleh Dr. Agustin, khususnya di Aceh, anak-anak yang terjun ke dunia narkoba, yang melakukan pelecehan seksual, atau yang masih remaja tetapi sudah merokok adalah mereka yang mengaku berasal dari broken homes, di mana ayah tidak pernah hadir di rumah karena lebih mencari kesenangan sendiri. Dia mengatakan bahwa anak-anak yang terlahir dalam kondisi demikian merasa hampa, dan tidak seperti anak-anak lain seusia yang merasa percaya diri, mereka sebaliknya merasa minder dan insecure. “Jadi, dari itulah saya berpendapat betapa pentingnya sosok ayah ataupun perannya dalam rumah tangga.”

Dr. Livia setuju dengan pentingnya kehadiran fisik maupun secara psikologis sosok ayah dalam keluarga dan dalam pengasuhan anak-anaknya, tetapi dia juga menekankan bahwa kita hendaknya jangan mengesampingkan perempuan yang menjadi kepala rumah tangga karena, seperti terekam dari pekerjaannya, tingkat kekerasan dalam rumah tangga juga cukup tinggi.

“Saya membayangkan seringkali memang tidak ada pilihan lain. Dari pekerjaan saya di Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, kita melihat KDRT, tingkat kekerasan yang dilakukan oleh pasangan sendiri itu luar biasa. Ada seorang suami yang tega…..sama istrinya. Jadi, ada keadaan di mana menjadi perempuan kepala rumah tangga itu tidak dapat dihindarkan,” tukasnya.

Dr. Livia berpendapat anggota masyarakat juga berkepentingan untuk membantu keluarga yang terpaksa bertahan tanpa sosok ayah karena dia tidak bertanggung jawab, menjadi pelaku kekerasan atau pelaku inses. “Peran keluarga sangat penting dan pembenahan-pembenahan perlu dimulai dari unit yang terkecil, yaitu keluarga, supaya anak-anak bisa tumbuh menjadi orang-orang yang benar-benar berkualitas,” jelasnya.

Ketidakhadiran sosok ayah sebagai role model bagi anak laki-laki, katanya, dapat dialihkan ke tokoh laki-laki lain, misalnya kakeknya, pamannya, atau tokoh masyarakat yang berpengaruh. “Jangan sampai tidak ada sama sekali karena terutama buat anak laki-laki, model kuat yang tegas dan bisa memberi payung itu penting,” ujarnya.

Dr. Agustin menandaskan bahwa peran ayah itu harus hadir dalam sebuah keluarga. “Jangan sampai ada ayah tetapi seperti tidak ada. Seorang ayah atau ibu harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Banyak kasus kekerasan terhadap anak itu dilakukan oleh ayah tiri atau ayah kandung. Artinya, itu adalah orang yang terdekat. Faktornya adalah ketahanan keluarga. Oleh karena itu ayah harus bertanggung jawab terhadap anaknya, dan anak merupakan amanah yang dititipkan kepada kita yang harus kita besarkan, harus kita lindungi, dan harus kita ayomi supaya menjadi berguna bagi bangsa dan negara,” pungkasnya. [lt/ab]

  • Bagikan