Utusan PBB: Akses Lintas Perbatasan di Suriah Harus Tetap Dibuka

  • Bagikan
Utusan khusus PBB untuk Suriah, Geir Pedersen

Suaraindo.id–Utusan khusus PBB untuk Suriah, Geir Pedersen hari Jumat (25/6) menambah ketegasannya atas seruan untuk tetap membuka satu-satunya perlintasan perbatasan agar bantuan kemanusiaan dapat mencapai wilayah Idlib, sebuah langkah yang ditentang oleh Moskow.

Selain sebagai satu-satunya pintu masuk bantuan yang menjangkau sekitar tiga juta orang, nasib jalur lintas perbatasan itu dipandang sebagai ujian bagi hubungan baru Rusia-AS di bawah kepemimpinan Presiden Joe Biden.

Itu akan ditutup pada 10 Juli mendatang yang membutuhkan pemungutan suara PBB agar tetap dibuka.

Namun Rusia, yang bersekutu dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad memperjelas tentangannya terhadap langkah yang dinilai mengancam kedaulatan Suriah, dapat menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB untuk memblokir hal tersebut.

“Warga sipil di seluruh wilayah sangat membutuhkan bantuan penyelamatan jiwa sekaligus membangun ketahanan. Sangat penting untuk mempertahankan dan memperluas akses, termasuk operasional dan lintas perbatasan,” kata Pedersen kepada Dewan Keamanan.

“Tanggapan lintas batas skala besar sangat penting untuk tambahan 12 bulan lagi yang dapat menyelamatkan nyawa,” katanya.

Izin tersebut berlaku sejak tahun 2014.

Akan tetapi Moskow tahun lalu – menggunakan hak vetonya berulang kali – menerapkan pengurangan drastis jumlah titik perlintasan, dari empat menjadi satu yang tersisa, di Bab al-Hawa di perbatasan Turki.

Sejumlah diplomat menyatakan Irlandia dan Norwegia, anggota tidak tetap Dewan Keamanan, mengajukan rancangan resolusi untuk menjaga Bab al-Hawa agar tetap buka selama satu tahun dan membuka kembali titik perlintasan kedua, Al-Yarubiyah, yang memungkinkan pasokan mencapai wilayah timur laut Suriah dari Irak.

Amerika Serikat, Perancis dan Inggris juga berencana menuntut pembukaan kembali titik perlintasan Bab al-Salam di barat laut di perbatasan Turki, yang termasuk di antara lokasi yang ditutup tahun lalu, kata para diplomat. [mg/pp]

  • Bagikan