Obama: Sebagian Besar Negara Gagal Wujudkan Rencana Iklim

  • Bagikan
Mantan Presiden AS Barack Obama (tengah) berbicara pada KTT Iklim COP26 di Glasgow, Skotlandia, Senin (8/11).

Suaraindo.id–Dalam pidato di KTT Perubahan Iklim PBB, COP26, Senin (8/11) waktu setempat, mantan Presiden AS Barack Obama memberi peringatan keras, “kita masih amat jauh dari tujuan kita.”

“Terlepas dari kemajuan saat tercapainya Perjanjian Iklim Paris, sebagian besar negara telah gagal mewujudkan rencana aksi (iklim) yang mereka buat enam tahun lalu,” ujarnya.

Obama mengakui bahwa beberapa kemajuan AS terhenti saat penerusnya, mantan Presiden Donald Trump, menarik AS dari Perjanjian Iklim Paris secara sepihak. Presiden Joe Biden bergabung kembali dalam kesepakatan itu saat ia mulai menjabat.

Obama juga mengatakan bahwa China dan Rusia, yang kedua pemimpinnya absen dari pertemuan tahunan yang dihadiri oleh lebih dari 120 kepala negara dan pemerintahan itu, telah menunjukkan “sikap tidak serius yang berbahaya” bagi berbagai komitmen untuk memerangi krisis iklim.

Pembangkit listrik tenaga batubara di Shenyang, Liaoning, China (foto: ilustrasi)
Pembangkit listrik tenaga batubara di Shenyang, Liaoning, China (foto: ilustrasi)

“Kita membutuhkan ekonomi-ekonomi maju seperti AS dan Eropa untuk memimpin (penanganan) masalah ini. Tapi Anda juga tahu bahwa kita perlu China dan India untuk memimpin, kita perlu Rusia untuk memimpin, seperti kita membutuhkan Indonesia, Afrika Selatan maupun Brazil untuk memimpin isu ini. Kita harus melibatkan semua pihak,” tambahnya.

Setelah berjalan selama seminggu, beberapa isu paling rumit masih belum terselesaikan.

Saat merangkum pencapaian pekan pertama KTT pada Senin (8/11) di Glasgow, Skotlandia, Presiden COP Alok Sharma sempat merevisi pernyataannya sendiri terkait jumlah isu yang berhasil diselesaikan, dengan mengubah penyebutan “banyak isu” menjadi “beberapa isu” saja..

Presiden COP Alok Sharma memberikan pidato pada pembukaan KTT Iklim COP26 di Glasgow (31/10).
Presiden COP Alok Sharma memberikan pidato pada pembukaan KTT Iklim COP26 di Glasgow (31/10).

“Saya ingin menyampaikan penghargaan saya yang mendalam kepada semua gelegasi karena bekerja begitu intensif pekan lalu untuk membantu kita memajukan sebanyak mungkin isu yang ada. Secara kolektif, Anda telah menyelesaikan begitu banyak—(dia sadar salah ngomong)—beberapa isu penting yang akan mendorong percepatan aksi iklim yang inklusif,” kata Sharma.

Hingga kini belum ada kesepakatan yang dicapai mengenai tiga target utama PBB.

Yaitu janji pengurangan emisi hingga setengahnya pada tahun 2030 untuk menjaga kenaikan suhu bumi tetap pada batas 1,5 derajat Celcius seperti disepakati pada Perjanjian Iklim Paris tahun 2015. Kemudian, realisasi dana iklim sebesar $100 miliar per tahun dari negara-negara kaya bagi negara-negara miskin, serta gagasan bahwa separuh dari uang itu digunakan untuk menyesuaikan diri dengan dampak terburuk pemanasan global.

Saat berbicara mewakili negara-negara miskin, Ahmadou Sebory Touré dari Guinea menyebut negara-negara kaya hanya membuat “komitmen kosong” karena tidak menepati janji mereka untuk menyalurkan dana iklim.

Perwakilan Bolivia di COP26, Diego Pacheco Balanza, menyampaikan hal serupa. “Sejarah dilanggarnya janji-janji dan tidak dipenuhinya berbagai komitmen oleh negara-negara maju berpengaruh signifikan terhadap posisi kita saat ini dalam kaitannya dengan kenaikan suhu bumi dan dampak-dampaknya.”

Beberapa isu lain, termasuk perdagangan karbon dan isu transparansi, juga belum terselesaikan.

Terkait tuntutan untuk mempersering pembaruan target pengurangan emisi masing-masing negara – sesuatu yang diharapkan negara-negara miskin – para negosiator bukan saja gagal memberi solusi, tapi juga malah memberikan sembilan opsi waktu yang berbeda untuk dipilih para negosiator berikutnya.

Presiden COP Alok Sharma menunjuk tim yang terdiri dari dua menteri – satu dari negara kaya, satu dari negara miskin – di masing-masing isu, untuk mengawasi jalannya negosiasi pada setiap topik – teknik yang pernah digunakan sebelumnya.

Ayman M. Shasly dari Arab Saudi mendesak Sharma untuk menekan para perunding untuk mencapai resolusi pada 12 November mendatang, hari terakhir penyelenggaraan COP26. [rd/jm]

  • Bagikan