Federasi Guru Amerika: Omicron Musuh Bersama

  • Bagikan
Seorang pejalan kaki melewati salju di luar MIT School of Architecture and Planning selama badai Nor'easter yang kuat di Cambridge, Massachusetts, AS, 29 Januari 2022. (Foto: REUTERS/Nicholas Pfosi)

Suaraindo.id–Serikat Guru Chicago yang baru-baru ini melakukan aksi protes menolak hadir di ruang kelas mendapat dukungan dari Federasi Guru Amerika.

Ketua Federasi Guru Amerika, Randi Weingarten mengatakan para guru Amerika telah berupaya semaksimal mungkin untuk membuka kembali sekolah dengan aman bagi para murid.

“Kita sudah berupaya dengan segala cara untuk membuka kembali sekolah secara aman bagi anak-anak, dengan mengetahui sepenuhnya bahwa pembelajaran tatap muka sangat penting bagi anak-anak dan keamanan adalah sarana untuk melakukannya,” kata Weingarten.

Dalam wawancara dengan kantor berita Associated Press baru-baru ini Weingarten mengakui perselisihan disebabkan oleh terganggunya pembelajaran langsung yang merugikan siswa dan membuat banyak orang tua siswa marah.

Ms. Martinez, seorang guru di Iroquois High School, berpindah-pindah antara kelasnya dan kelas anak-anaknya selama hari pembelajaran virtual. (Foto: Reuters)
Ms. Martinez, seorang guru di Iroquois High School, berpindah-pindah antara kelasnya dan kelas anak-anaknya selama hari pembelajaran virtual. (Foto: Reuters)

Ia menyadari persyaratan masker dan vaksin sudah bermuatan politik dan membela para guru.

“Jadi Omicron yang menjadi musuh di sini, bukan para guru, bukan orang tua”

Ia mengatakan penangguhan sementara pembelajaran tatap muka di sekolah disebabkan oleh alasan sama seperti halnya dalam industri-industri lainnya karena tingginya tingkat infeksi dan kelangkaan staf sehingga sekolah tidak bisa beroperasi seperti menjalankan sebuah jalur penerbangan.

Weingarten mengatakan Chicago adalah satu-satunya wilayah di Amerika di mana para guru sekolah negeri melakukan tugasnya.

“Chicago merupakan satu-satunya tempat di AS di mana ada tindakan. Yang kita inginkan adalah prokes mendasar di mana setiap usaha melakukannya dalam hal, bekerja langsung dan melakukan tes cepat dan melakukan proses sehingga kita bisa memastikan orang-orang aman di sekolah-sekolah,” ujarnya.

Para murid di distrik terbesar ke tiga AS ini pada Rabu lalu kembali ke sekolah setelah otoritas Sekolah Negeri Chicago (CPS) membatalkan pelajaran di sekolah selama lima hari di tengah kebuntuan antara serikat guru terkait prokes COVID-19.

Sementara serikat guru dan sekolah-sekolah bertikai masalah pembelajaran langsung dan pembelajaran secara daring, siswa di seluruh Amerika menuntut agar suara mereka didengar.

Eliot Miller dan siswa lainnya berjalan ke bus sekolah pada hari pertama sekolah di Louisville, Kentucky, AS, 11 Agustus 2021. (Foto: REUTERS/Amira Karaoud)
Eliot Miller dan siswa lainnya berjalan ke bus sekolah pada hari pertama sekolah di Louisville, Kentucky, AS, 11 Agustus 2021. (Foto: REUTERS/Amira Karaoud)

Meskipun tuntutan secara khusus beragam, tuntutan para siswa umumnya berkisar masalah dimungkinkannya pembelajaran jarak jauh sebagai pilihan bagi mereka yang khawatir untuk datang ke sekolah daripada menutup sepenuhnya pembelajaran di kelas.

Koalisi siswa yang menganjurkan sepenuhnya beralih ke pembelajaran jarak jauh hanya mengimbau melakukannya secara sementara jika sekolah-sekolah tidak melakukan tindakan kewaspadaan yang lebih ketat terhadap COVID-19, termasuk tes secara berkala dan pemakaian masker berkualitas yang lebih aman.

Sebagian siswa termasuk murid CPS melakukan aksi keluar sekolah atau walkout minggu lalu.

Setelah dua hari kembali ke kelas, sekitar 100 murid Chicago keluar dari sekolah mereka, dipimpin oleh organisasi siswa yang baru terbentuk, Chicago Public Schools Radical Youth Alliance.

“Kami menginginkan pembelajaran daring dan bisa aman sementara kami berupaya mendapat pendidikan,” katanya.

Horton menganggap pembelajaran dari jarak jauh sebagai sebuah pilihan yang lebih baik selagi varian omicron terus menginfeksi siswa, para guru dan staf. [my/lt]

  • Bagikan