Suaraindo.id— Meskipun telah tinggal di Amerika selama lebih dari 20 tahun, Maria Dziuma masih berhubungan erat dengan Ukraina. Anggota Komisi Kongres Amerika untuk Ukraina itu mengatakan, “Saya menjadi warga negara Amerika pada 1999 tetapi hati saya masih terpaut pada negara asal saya.”
Meskipun jauh dari bahaya karena tinggal di Chicago, ribuan kilometer dari Ukraina, Dziuma memikirkan teman-teman dan keluarga dekatnya yang tinggal di sana, yang kini kemungkinan menjadi sasaran bidik pasukan militer Rusia.
“Saya benar-benar sedih. Membayangkan tank-tank Rusia berada di perbatasan negara asal saya yang indah saja telah membuat saya ingin menangis,” ujarnya.
Ketegangan yang meningkat membuat Yuriy Soroka bimbang. Haruskah ia tetap tinggal di Chicago atau siap bertempur di Ukraina.
“Pikiran-pikiran itu melintas dalam benak saya setiap hari,” ujarnya.
Yuriy sejauh ini tetap di Amerika. Teman-temannya mengatakan kepadanya bahwa Ukraina membutuhkan advokat dari seluruh dunia. Ia mengulang apa yang disampaikan kepadanya: “Kita memiliki orang-orang besar yang kuat yang cukup mahir berperang. Kami membutuhkanmu di Amerika untuk melakukan apa yang selama ini kamu lakukan.”
Itu sebabnya Soroka, Dziuma, dan ratusan lainnya dari komunitas besar Amerika-Ukraina di negara bagian Illinois, menggalang persatuan dalam memperingati revolusi Maidan di Ukraina yang mendesakkan jalinan hubungan lebih erat dengan Uni Eropa.
Lydia Tkaczuk mengepalai Museum Nasional Ukraina-Chicago. Itu adalah pusat kebudayaan bagi komunitas diaspora selama krisis yang semakin dalam antara Kyiv dan Moskow.
“Kami menggelar acara renungan bersama yang disertai dengan penyalaan lilin untuk mengenang “Ratusan Korban” yang dikenal sebagai “Heavenly Hundred.” Mereka adalah warga sipil yang dipukuli secara brutal pada 20 Februari 2014. Tidak banyak yang mampu kami lakukan. Kami dapat menunjukkan dukungan. Kami bisa berdoa. Kami bisa menelepon mereka. Tetapi karena kami jauh, itu sangat sulit bagi kami,” kata Lydia.
Menurut Lydia Tkaczuk, banyak orang Amerika Ukraina merasa tidak berdaya.
“Banyak dari mereka memiliki anak di Ukraina, cucu, kakek-nenek, ibu, saudara perempuan. Tetapi apa yang bisa dilakukan untuk mereka? Tidak banyak yang bisa mereka lakukan untuk keluarga mereka,” tukasnya.













