Lagi, Kampus AS dengan Mayoritas Mahasiswa Kulit Hitam Diancam Bom

  • Bagikan
Lagi, Kampus AS dengan Mayoritas Mahasiswa Kulit Hitam Diancam Bom

Suaraindo.id–Beberapa kampus yang mayoritas mahasiswanya berkulit hitam kembali menerima ancaman bom hari Selasa (1/2), hari kedua berturut-turut, yang membuat pihak berwenang memberlakukan aturan lockdown – atau menutup kawasan dan melarang orang keluar masuk kampus. Ancaman ini terjadi saat Amerika merayakan Black History Month, yang juga dikenal sebagai African-American History Month, pada bulan Februari ini.

Ancaman bom pada hari Selasa (1/2) mendorong aparat keamanan dan pihak kampus memberlakukan perintah “shelter-in-place” atau berlindung di sedikitnya tiga perguruan tinggi dan universitas yang mayoritas mahasiswanya berkulit hitam di negara bagian Maryland dan ibu kota Washington DC. Ancaman ini hanya berselang satu hari setelah serangkaian ancaman bom terhadap kampus-kampus HBCU (Historically Black Colleges Universities) di Amerika Amerika.

Auditorium di Morgan State University di Baltimore, Maryland (foto: dok).
Auditorium di Morgan State University di Baltimore, Maryland (foto: dok).

Howard University di Washington DC dan Morgan State University di Baltimore, Maryland, adalah sebagian di antara kampus-kampus yang dikenai kebijakan “shelter-in-place” itu. Aparat keamanan mengatakan ancaman bom serupa juga diterima The University of the District of Columbia.

Howard University mengirim peringatan darurat kampus sekitar pukul 3.30 Selasa dini hari, tepat di hari pertama Black History Month di Amerika. Polisi Howard dan DC mengijinkan berlangsungnya aktivitas normal kembali setelah mengeluarkan kode “semua aman,” dan mencabut perintah “shelter-in-place” beberapa jam kemudian.

 

Ancaman bom juga diterima Fort Valley State University FVSU di negara bagian Georgia, yang membuat aparat keamanan bergegas datang dan memeriksa seluruh fasilitas kampus dengan seksama. Pihak FVSU mencuit di Twitter bahwa “penyelidikan masih berlangsung, kampus masih tetap ditutup, seluruh kelas dan operasi universitas ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut.”

Seluruh staf dan mahasiswa diminta tidak datang ke kampus saat ini dan terus memonitor informasi di RAVE serta website media sosial dan email resmi FVSU untuk pemberitahuan tentang waktu beroperasinya kegiatan dan kelas kembali.

Serangkaian Ancaman Bom Ketiga dalam Satu Bulan

Sehari sebelumnya setidaknya setengah lusin universitas yang secara historis mayoritas mahasiswanya berkulit hitam di lima negara bagian dan District of Columbia hari Senin (31/1) diancam bom. Sebagian besar kampus itu memberlakukan kebijakan lockdown – atau menutup kawasan dan melarang orang keluar masuk – untuk sementara waktu.

Dalam dua pernyataan terpisah, Biro Penyidik Federal FBI dan Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api & Bahan Peledak ATF mengatakan sedang menyelidiki ancaman bom tersebut.

Di negara bagian Georgia, Albany State University lewat media sosial memperingatkan mahasiswa dan pihak fakultas bahwa “gedung-gedung akademik Albany State University telah mendapat ancaman bom.”

Pejabat-pejabat di Southern University and A&M College di Baton Rouge, di negara bagian Louisiana Senin pagi (31/1) meminta seluruh mahasiswa untuk tetap berada di asrama mereka. Setelah mencari piranti yang mencurigakan, pada Senin sore pihak berwenang mengatakan kampus itu aman. Namun pejabat-pejabat kampus itu mengatakan operasi normal diperkirakan baru akan dimulai hari Selasa (1/2).

Pejabat-pejabat di Bowie State University di negara bagian Maryland, juga meminta semua orang di kampus itu untuk berlindung Senin pagi. Anjing-anjing pendeteksi bahan peledak dan sejumlah pakar bom membantu polisi kampus menyapu gedung-gedung di kampus itu. Kampus dibuka kembali Senin malam setelah dipastikan aman oleh para petugas hukum lokal, negara bagian dan federal.

Stasiun Radio WTOP hari Senin melaporkan ancaman bom serupa juga diterima Howard University di Washington DC.

Di negara bagian Florida, polisi Pantai Daytona mencuit bahwa mereka memberi izin kepada seluruh sivitas akademika untuk kembali beraktivitas setelah memeriksa ancaman bom yang diterima. Namun kelas-kelas telah terlanjur dibatalkan. Meskipun demikian polisi mengatakan akan tetap berada di kampus itu hingga Senin malam untuk memastikan keamanan situasi.

Juru bicara Delaware State University di negara bagian Delaware, Carlos Holmes, mengatakan kepada media bahwa ancaman bom juga diterima kampus itu Senin pagi.

Gedung Putih Memantau

Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki hari Senin mengatakan ancaman bom itu “tentu saja mengganggu,” dan bahwa “Gedung Putih berhubungan erat dengan berbagai mitra antar-lembaga, termasuk pimpinan penegak hukum federal, mengenai isu ini.”

Psaki menambahkan “kami lega mendengar bahwa Howard University di DC dan Bethune-Cookman University di Florida telah diberi ijin untuk kembali beraktivitas dan (kami) akan terus memantau laporan ini.” Presiden Biden, ujarnya, juga telah mengetahui ancaman itu.

Kaukus HBCU di Kongres Kecam Serangkaian Ancaman Bom

Ancaman bom itu terjadi sehari sebelum dimulainya Black History Month dan kurang dari satu bulan setelah serangkaian ancaman bom terhadap sejumlah kampus yang mayoritas mahasiswanya adalah warga Amerika keturunan Afrika pada 4 Januari lalu.

Pemimpin Kaukus HBCU Bipartisan di Kongres dalam sebuah pernyataan hari Senin menyatakan “kami sangat terganggu oleh ancaman bom putaran kedua di kampus-kampus HBCU dalam waktu satu bulan ini.”

Pernyataan itu menggarisbawahi “belajar adalah salah satu pencarian yang paling mulia dan paling manusiawi, dan sekolah adalah tempat suci yang harus selalu bebas dari teror. Menyelesaikan kasus kejahatan ini dan menyeret mereka yang bertanggungjawab ke muka hukum harus menjadi prioritas utama aparat penegak hukum federal.”

Pernyataan itu dikeluarkan oleh dua anggota DPR, yaitu anggota faksi Demokrat dari negara bagian North Carolina Alma Adams dan anggota faksi Republik dari negara bagian Arkansas French Hill, yang merupakan ketua bersama kaukus itu.

Biro Penyidik Federal FBI hari Selasa mengatakan “FBI mengetahui tentang serangkaian ancaman bom di seluruh negara ini dan sedang bekerja dengan mitra-mitra penegak hukum kami untuk mengatasi potensi ancaman apapun.” FBI menyerukan kepada seluruh warga masyarakat untuk melaporkan hal mencurigakan apapun kepada biro itu. [em/jm]

  • Bagikan