Rusia Hadapi Tekanan Diplomatik, Ekonomi Sementara Ukraina Hadapi Invasi

  • Bagikan
Sebuah poster terlihat ketika warga melakukan protes antiperang, setelah Rusia melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Ukraina, di Lisbon, Portugal, 27 Februari 2022. (Foto: REUTERS/Pedro Nunes)

Suaraindo.id–Tekanan diplomatik dan ekonomi terhadap Rusia karena menginvasi Ukraina meningkat pada Senin (28/2), dengan rencana Majelis Umum PBB menyelenggarakan sidang darurat, nilai mata uang Rusia turun ke tingkat terendah dan tambahan sanksi-sanksi baru terhadap bank sentral negara itu.

Sementara invasi memasuki hari kelima, militer Ukraina menyatakan pasukan Rusia telah memperlambat “laju ofensif.”

Kementerian Pertahanan Inggris pada Senin (28/2) menyatakan pasukan Rusia tetap berada di jarak 30 kilometer lebih di sebelah utara ibu kota Ukraina, Kyiv, seraya menambahkan bahwa “kegagalan logistik dan perlawanan gigih Ukraina terus membuat menghalangi gerak maju Rusia.”

Ini sesuai dengan penilaian seorang pejabat pertahanan senior AS, yang mengatakan kepada para wartawan pada Minggu (27/2), “Kami tidak memiliki indikasi bahwa militer Rusia telah merebut satu kota pun.”

Pasukan Rusia dalam waktu dekat dapat diperkuat oleh pasukan dari sekutunya, Belarus, kata para pejabat AS yang berbicara kepada berbagai organisasi berita.

Di antara sanksi-sanksi baru pada Senin (28/2), pemerintah Inggris melarang entitas negara itu melakukan tranksaksi dengan bank sentral, kementerian keuangan dan dana investasi pemerintah Rusia, sedangkan Singapura mengumumkan seperangkat sanksi yang menarget transaksi perbankan tertentu dan pengendalian ekspor.

Sehari setelah Uni Eropa menyatakan mengirimkan jet-jet tempur ke Ukraina, Australia hari Senin berkomitmen untuk mengirimkan perangkat militer mematikan yang tidak dirincinya.

Gedung Putih menyatakan Presiden AS Joe Biden akan mengadakan percakapan telepon dengan sejumlah sekutu pada Senin (28/2) untuk membahas perkembangan terbaru di Ukraina “dan untuk mengoordinasikan tanggapan bersama.”

Sedikitnya 350 warga sipil telah tewas sejak Rusia menyerang pekan lalu, dengan 170 lainnya cedera, kata Ukraina pada Minggu (27/2). Tidak ada informasi mengenai korban di pihak pasukan Ukraina, dan meskipun Rusia telah mengakui korban di kalangan tentaranya, negara itu tidak mengungkapkan secara terbuka mengenai jumlahnya.

Filippo Grandi, pemimpin badan pengungsi PBB, mengatakan hari Minggu, 368 ribu pengungsi dari Ukraina telah menyeberang ke Polandia, Hungaria, Romania, Moldova dan negara-negara lainnya. [uh/ab]

  • Bagikan