Hari Bumi Dorong Seruan Bagi Bisnis untuk Sadar Lingkungan

  • Bagikan
Setiap tahun pada Hari Bumi, 22 April, orang-orang berkumpul untuk meningkatkan kesadaran mengenai masalah lingkungan hidup. (Foto: VOA)

Suaraindo.id–Setiap tahun pada Hari Bumi, 22 April, orang-orang berkumpul untuk meningkatkan kesadaran mengenai masalah lingkungan hidup. Tahun ini mereka akan berfokus pada percepatan transisi ke ekonomi hijau atau sadar lingkungan yang sejahtera.

Dalam acara itu, yang juga dikenal sebagai Hari Ibu Pertiwi Internasional, sekitar 1 miliar orang di 190 negara ambil bagian dalam berbagai aktivitas yang kerap mencakup menanam pohon, menyingkirkan sampah di daratan dan perairan, dan memberi penyuluhan mengenai lingkungan hidup.

Sementara upaya mengurangi dampak perubahan iklim masih menjadi agenda utama agenda lingkungan global, Hari Bumi tahun ini berfokus pada aspek bisnis dari target tersebut: berinvestasi di planet kita ini.

Semakin banyak bisnis yang perlu ditarik ke upaya untuk mengamankan planet Bumi, khususnya untuk memerangi perubahan iklim, kata lembaga nirlaba Earthday.org yang berbasis di Washington.

Ahli lingkungan Kolombia Francisco Vera (kiri) dan pendiri kelompok lingkungan "Guardians of Life", menanam pohon dengan sesama aktivis untuk memperingati Hari Bumi, di Villeta, Kolombia 21 April 2021. (Foto: Reuters)
Ahli lingkungan Kolombia Francisco Vera (kiri) dan pendiri kelompok lingkungan “Guardians of Life”, menanam pohon dengan sesama aktivis untuk memperingati Hari Bumi, di Villeta, Kolombia 21 April 2021. (Foto: Reuters)

Menurut situs Earthday.org, “perusahaan-perusahaan pintar mendapati bahwa mereka tidak lagi memiliki pilihan antara sadar lingkungan dan menumbuhkan laba jangka panjang – keberlanjutan merupakan jalur menuju kemakmuran.”

“Jika Anda ingin menyelesaikan masalah perubahan iklim, ikuti uangnya, karena uang sebagian besar bergerak menuju solusi teknologi, penelitian dan pengembangan, yang semuanya sadar lingkungan,” kata presiden Earthday.org Kathleen Rogers dalam wawancara dengan VOA.

Perusahaan-perusahaan minyak dan gas yang mengandalkan bahan bakar merasakan tekanan itu.

Perusahaan-perusahaan yang tidak sadar lingkungan menghadapi “risiko sangat besar,” kata Rogers memperingatkan, karena seruan untuk membatasi bahan bakar fosil terus berkembang.

  • Bagikan