Alhamdulillah, LDII Kalbar Tebar Kurban Bernilai Lebih dari Rp 4 Miliar

  • Bagikan
Warga LDII di Mempawah sedang memproses pembagian daging kurban untuk masyarakat yang membutuhkan, Minggu (10/7/2022). SUARKALBAR.CO.ID/Foto. Dok LDII Kalbar

Suaraindo.id – Kendati ekonomi masih lesu pasca pandemi COVID-19, dan munculnya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), tetapi tidak menyurutkan semangat warga LDII Kalbar mewujudkan penyembelihan hewan kurban.

“Secara pribadi, saya haru dengan semangat warga LDII untuk melakukan penyembelihan hewan kurban. Semua karena termotivasi bahwa penyembelihan qurban menjadi ibadah yang paling dicintai Allah SWT pada tanggal 10 Zulhijah,” ujar Ketua DPW LDII Kalbar, Susanto ketika ditemui awak media di sela-sela pembagian daging kurban, Minggu (10/7/2022).

Ia mengakui, sebenarnya saat ini sedang ada wabah PMK, dan hampir ada kenaikan harga sapi di tingkat petani.

“Harga sapi pada tahun ini seiring adanya wabah PMK cukup mahal.  Untuk jenis sapi yang memenuhi standar hewan terendah dipatok Rp 18 juta,” tambahnya.

Bahkan lanjut dia, semestinya dampak pandemi yang mengganggu ekonomi warga berpengaruh kepada kuantitas hewan kurban, namun faktanya justru lain.

“Dilandasi semangat ketaqwaan kepada Allah SWT, jumlah hewan kurban warga LDII tembus Rp 4 Miliar lebih,” jelasnya.

Dari total dana yang dibelanjakan, tambahnya, dapat dirincikan, sapi sebanyak 209 ekor, kambing 93 ekor dan kerbau sebanyak 2 ekor.

“Jika dibandingkan dengan tahun 2021, mengalami kenaikan sekitar 10 persen yakni tercatat sebelumnya 194 ekor sapi dan sekarang 209 ekor sapi. Namun nominal dananya yang naik cukup signifikan, dampak dari kenaikan harga sapi dan kambing” jelasnya.

Ketua LDII Kalimantan Barat, Susanto.

Motivasi lain yang turut menyemangati warga LDII adalah semangat membangun kepedulian sosial.

“Di balik sebagai bentuk ketaqwaan, ibadah penyembelihan hewan kurban juga menumbuhkan kepedulian sosial. Kami berbagi dengan berbagai kalangan. Ini lah wujud kepedulian sosial dari LDII saat Hari Raya Idul Adha,” tegas Susanto.

Adapun pola pembagian, dijelaskannya, tetap diantarkan secara door to door.

“Sejak awal metode pembagian daging kurban diutamakan datang rumah ke rumah. Selain menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, juga membantu panitia lebih fokus dalam pembagian. Kecuali ada yang datang dan meminta, juga tetap dilayani,” imbuhnya.

  • Bagikan