BNPB: Waspadai Potensi Bencana Hidrometeorologi Basah di Indonesia Tengah dan Timur

  • Bagikan
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan dampak kejadian Banjir di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada 1 Agustus 2022. (Foto: VOA)

Suaraindo.id– Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyatakan sejak tanggal 25-31 Juli 2022 telah terjadi 26 kejadian bencana yang melanda wilayah Indonesia di mana seluruh kejadian bencana dikategorikan sebagai bencana hidrometeorologi.

Banjir menjadi bencana terbanyak pada periode ini dengan 14 kejadian, selanjutnya kebakaran hutan dan lahan dengan 5 kejadian, cuaca ekstrem dengan 5 kejadian, dan tanah longsor dengan 2 kejadian.

Dalam kurun waktu tersebut, bencana banjir merendam 1.143 rumah yang menyebabkan 6.349 jiwa terdampak mengungsi serta mengakibatkan 42 rumah rusak. Sedangkan kebakaran hutan dan lahan menyebabkan 48,71 hektare lahan terbakar. Berdasarkan sebaran lokasi, kejadian banjir paling dominan terjadi di wilayah Indonesia Tengah dan Timur, sedangkan wilayah Indonesia Tengah ke Barat mulai didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan.Artinya mungkin nanti kita bisa sandingkan dengan prakiraan cuaca dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) dari belahan Indonesia Tengah ke Barat kita harus mewaspadai hidrometeorologi kering karena musim kering sudah mulai signifikan dan titik-titik api terpantau mulai banyak, tetapi belahan Indonesia Tengah ke Timur ini kita masih akan berhadapan dengan hidrometeorologi basah,” kata Abdul Muhari dalam keterangan pers secara virtual pada Senin (1/8).

Ia mengatakan pemerintah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi lebih dari satu jam maupun hujan intensitas tidak terlalu tinggi yang terjadi dalam durasi yang sangat panjang.

Banjir Bandang di Kabupaten Parigi Moutong

Dalam catatan BNPB bencana banjir bandang yang cukup signifikan terjadi di desa Torue, Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah pada Kamis (28/7) yang menimbulkan tiga korban jiwa dan empat orang hilang.

Analisa sementara BNPB menjelaskan kejadian banjir yang melanda desa Torue Kabupaten Parigi Moutong diawali hujan dengan kategori intensitas yang tidak terlalu tinggi. Data satelit curah hujan memperlihatkan intensitas hujan yang turun sebelum banjir terjadi masuk ke dalam kategori hujan sedang. Akan tetapi hujan sedang dengan durasi lama ini datang bersamaan dengan pasang tinggi sehingga kumulatif debit di sungai khususnya bagian muara menjadi besar.Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah, Andi Sembiring menyatakan upaya pencarian empat warga yang hilang masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Selain itu pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan mendirikan 51 hunian sementara untuk warga yang rumahnya rusak berat dan hilang dalam peristiwa banjir bandang tersebut.

“Sampai hari ini (Senin.red) dari hari pertama itu teman-teman dari SAR gabungan telah berupaya maksimal sampai melakukan penyisiran ke desa tetangga sebelah. Memang kendala yang dialami di perairan pinggir pantai desa Torue ini itu diakibatkan banyaknya material buangan banjir berupa kayu atau material lainnya yang memang itu agak menyulitkan Tim SAR gabungan melakukan pencarian,” kata Andi Sembiring dalam kesempatan yang sama.

Perlu Mitigasi Struktur

Andi Sembiring mengungkapkan sejak Januari hingga Juli 2022, terdapat 150 kejadian banjir di Sulawesi Tengah yang dihadapkan dengan kondisi sungai yang tidak terpelihara. Sehingga menurutnya sangat penting untuk dilakukan upaya mitigasi struktur untuk mencegah berulangnya bencana banjir. Mitigasi struktur merupakan upaya untuk meminimalkan bencana yang dilakukan melalui pembangunan berbagai prasarana fisik dan pendekatan teknologi.

“Kalau kita mitigasi struktur sejak awal itu sama dengan kita meminimalisir pengeluaran, belanja daerah ataupun belanja negara. Harapan saya secara pribadi bagaimana BNPB ini ada penegasan kepada daerah-daerah terutama BPBD Kabupaten, BPBD Provinsi untuk lebih memprioritaskan mitigasi struktur bukan lagi mitigasi yang sifatnya pembuatan forum-forum yang sifatnya menghabiskan banyak pembiayaan dibanding bagaimana kita mencegah bencana itu terjadi atau bagaimana bencana yang sudah terjadi itu tidak terulang kembali,” papar Andi Sembiring.Abdul Muhari menjelaskan sebagai solusi antisipatif jangka pendek pascabencana banjir di Parigi Moutong perlu dilakukan upaya peninggian tanggul sungai khususnya di titik-titik limpasan sebagai antisipasi musim penghujan di bulan September, sedangkan untuk solusi jangka panjang perlu dilakukan upaya reboisasasi di bagian hulu sungai untuk memulihkan ekosistem agar mampu secara optimal menjadi kawasan serapan air.

Selain itu juga perlu memantau kesehatan alur badan sungai secara rutin agar tidak ada sumbatan-sumbatan yang memunculkan bendung-bendung alam saat musim hujan.

 

  • Bagikan