Kekurangan Bahan, Pengrajin Aksesoris Simpai Khatulistiwa Tidak Bisa Buat Banyak Orderan

  • Bagikan
Inilah tampilan Gelang Simpai yang merupakan kerajinan berbahan utama resam dan rotan. Gelang memang menjadi salah satu aksesoris penunjang penampilan, tidak hanya terbuat dari emas, namun gelang juga banyak terbuat dari manik- manik bahkan bahan alami seperti gelang dari Simpai Khatulistiwa. UMKM yang telah bergerak sejak tahun 2014 dilatarbelakangi keinginan memiliki gelang yang unik. (Rabiansyah)

Suaraindo.id – Gelang simpai merupakan kerajinan berbahan utama resam dan rotan, namun seiring ramainya peminat gelang etnik tersebut, pengrajin gelang simpai mengaku tidak dapat memenuhi pelanggan. Karena, jauhnya lokasi pengambilan bahan baku dan minimnya bahan sehingga pengrajin memilih untuk jarang memproduksi gelang tersebut.

Gelang memang menjadi salah satu aksesoris penunjang penampilan, tidak hanya terbuat dari emas, namun gelang juga banyak terbuat dari manik- manik bahkan bahan alami seperti gelang dari Simpai Khatulistiwa. UMKM yang telah bergerak sejak tahun 2014 dilatarbelakangi keinginan memiliki gelang yang unik.

Cahyadi yang merupakan Pengrajin Gelang Simpai Khatulistiwa mengatakan, jika dirinya masih bertahan dengan kerajinan ini, karna kerajinan tersebut bernilai dengan kearifan lokal yang tinggi. Ia mengaku, sudah sekitar 7 tahun membuat Gelang berbahan dasar resam dan rotan ini, namun seiring berjalannya waktu, bahan-bahan dasar tersebut sudah semakin sulit untuk ditemui.

“Saya memilih bertahan untuk menjadi pengrajin aksesoris simpai ini karna, memiliki ciri khas tersendiri. Apalagi terbuat dari tumbuhan dan sangat awet bisa bertahan hingga beberapa tahun kedepan, meski kini bahan tersebut sulit didapat,” katanya, Rabu (10/8/2022).

Sementara itu, Tomi yang juga Pengrajin Gelang Simpai membenarkan, jika minimnya bahan baku dan jauhnya lokasi pengambilan sehingga pihaknya memilih untuk menolak permintaan pelanggan saat stok kosong.

“Kalau beberapa tahun yang lalu sih bahannya masih cukup banyak ya, cuman sekarang ini bahan nya udah sulit untuk di jumpai, apalagi ngambilnya harus di tengah-tengah hutan,” ucap Tomi.

Lanjutnya, Simpai Khatulistiwa pun bertekad tetap bertahan dalam kerajinan ini, meskipun bahan baku cenderung sulit untuk didapat.

“Kami akan tetap terus bertahan, tetapi jika tidak ada bahan maka orderan tetap tidak kami terima,” tururnya.
Sementara itu, Abdul satu diantara pembeli Gelang berbahan dasar resam dan rotan ini pun mengaku, jika dirinya menyukai anyaman gelang berbagan dasar tersebut, dikarenakan berbahan dasar tumbuhan dan juga bernilai etnik, maka dari itu dirinya membeli dan juga memesan untuk dibawa pulang ke kampung halaman.

“Saya membeli gelang ini karna memiliki nilai etnik, dan juga kalau kita datang langsung ke pengrajin nya bisa langsung buat di tangan, dan langsung di anyamkan di tangan kita, itu yang unik nya,” pungkasnya.

  • Bagikan