Pentingnya Asupan Protein untuk Pertumbuhan Anak: Waspada Risiko Stunting

  • Bagikan
Arsip Foto – Para ibu dan anak mereka menghadiri acara Pemberian Bahan Makanan Bergizi Bagi Anak di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (21/9/2024). (ANTARA)

Suaraindo.id – Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), seorang dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia, mengingatkan akan bahaya serius dari kekurangan asupan protein pada anak-anak, yang dapat berdampak langsung pada pertumbuhan dan perkembangan mereka. “Dampak kekurangan protein yaitu gangguan kesehatan, hambatan tumbuh kembang hingga stunting,” jelas Luciana, melansir dari ANTARA pada Selasa (8/10/2024).

Dampak Kekurangan Protein pada Pertumbuhan Anak

Luciana menjelaskan bahwa kurangnya asupan protein tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik anak, tetapi juga dapat mengganggu perkembangan otak dan daya imunitas. Anak-anak yang tidak mendapatkan cukup protein cenderung lebih rentan terhadap penyakit karena sistem kekebalan tubuh mereka melemah.

“Protein sangat penting untuk membangun jaringan tubuh serta memperbaiki sel-sel yang rusak. Kurangnya protein bisa berdampak pada fungsi tubuh anak, termasuk otak dan imunitas mereka,” tambah Luciana.

Pentingnya Sumber Protein Hewani dan Nabati

Luciana menegaskan pentingnya pemberian protein yang seimbang dari sumber hewani dan nabati. “Pada anak batita, konsumsi protein nabati direkomendasikan sekitar 10 persen dari isi piring, sedangkan pada balita anjuran konsumsi protein hewani dan nabati adalah 35 persen dari total asupan makanan,” paparnya.

Ia juga mendorong orang tua untuk memperhatikan pemenuhan kebutuhan gizi anak, terutama dalam program makan siang gratis di sekolah yang diinisiasi oleh pemerintah. Program ini harus memastikan adanya asupan protein yang memadai untuk anak-anak.

Konsumsi Protein di Indonesia Masih Rendah

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2023, konsumsi protein per kapita per hari di Indonesia masih rendah, yakni sekitar 62,3 gram. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Sebagai perbandingan, Kamboja mencatat 63,3 gram per hari, Thailand 66,5 gram, Filipina 73,1 gram, Myanmar 78,3 gram, Malaysia 89,1 gram, dan Vietnam mencapai 94,4 gram per kapita per hari.

Luciana berharap melalui program makan siang gratis dan peningkatan kesadaran orang tua akan pentingnya asupan protein, angka konsumsi protein di Indonesia dapat meningkat, sehingga dapat membantu mencegah kasus stunting serta meningkatkan kesehatan dan tumbuh kembang anak secara optimal.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

  • Bagikan