SUARAINDO.ID ——– Universitas Indonesia (UI) melalui program pengabdian masyarakat melakukan kegiatan edukasi dan diskusi publik terkait pencegahan perkawinan anak di aula kantor Desa Jerowaru, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur.
Kegiatan tersebut digelar sebagai respons terhadap tingginya angka kehamilan remaja di Lombok Timur, yang menjadi salah satu indikator masih maraknya praktik perkawinan anak di daerah tersebut.
Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Dr Diana T Pakasi, M.Si menjelaskan, meskipun tidak ada data pasti mengenai jumlah kasus perkawinan anak, namun data dari Dinas Kesehatan menunjukkan angka kehamilan remaja cukup tinggi.
“Kehamilan remaja mencerminkan salah satu bentuk tingginya angka perkawinan anak. Karena itu, kami berupaya melakukan edukasi dan perubahan perspektif masyarakat,” ujarnya, sabtu 1 Nopember 2025.
Menurut Diana, pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan berbagai regulasi untuk mencegah perkawinan anak, namun praktik tersebut masih terjadi di masyarakat.
Pertanyaannya kemudian, mengapa hal itu terus terjadi? Melalui forum tersebut diharapkan bisa membongkar dan menggugah kesadaran masyarakat tentang faktor-faktor yang melatarbelakangi perkawinan dibawah umur.
Dalam diskusi tersebut, berbagai faktor penyebab dibahas, mulai dari rendahnya prioritas pendidikan bagi anak perempuan, pengaruh pergaulan remaja melalui media sosial, hingga interpretasi keliru terhadap adat dan budaya seperti praktik “merarik kodek”.
Banyak keluarga yang masih memandang, bahwa perkawinan sebagai solusi ketika anak perempuan putus sekolah atau tidak memiliki pilihan lain.
Selain faktor budaya, kondisi ekonomi dan perubahan iklim juga dinilai turut memperburuk situasi.
Wilayah pesisir seperti Jerowaru menghadapi dampak langsung dari perubahan cuaca ekstrem yang memengaruhi sumber penghidupan masyarakat.
Tekanan ekonomi akibat kemiskinan dan perubahan iklim memperbesar risiko perkawinan anak, karena sebagian orang tua merasa terbebani dan memilih menikahkan anaknya lebih cepat.
Diana berharap, pemerintah dapat merumuskan strategi bersama untuk memperluas akses pendidikan, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, serta meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi menjadikan perkawinan anak sebagai jalan keluar dari masalah sosial dan ekonomi.














