Suaraindo.id – Tren thrifting di Kabupaten Sambas kini menghadapi tantangan besar seiring menurunnya daya beli masyarakat. Meski begitu, sejumlah pelaku usaha tetap optimistis dan menjadikan situasi ini sebagai momentum untuk berinovasi serta memperkuat nilai bisnis mereka.
Salah satunya adalah Wibowo, pemilik Dethrifts di Sambas. Ia mengaku memilih bertahan dengan menerapkan konsep bisnis berbasis nilai dan keberlanjutan yang kini menjadi tren di kalangan anak muda.
“Tidak mudah bersaing di tengah perang harga, tapi kami percaya thrifting punya ruang tersendiri. Ada pelanggan yang mencari barang mewah, unik, hingga yang bergaya imut — semua itu punya nilai dan cerita di mata masing-masing kolektor,” ujarnya, Kamis (6/11/2025).
Menurut Wibowo, thrifting bukan sekadar jual beli pakaian bekas, melainkan gaya hidup yang memiliki filosofi tersendiri. Selain aspek ekonomi, bisnis ini juga menawarkan manfaat lingkungan karena membantu mengurangi limbah tekstil dari industri fast fashion.
“Pandangan bahwa thrifting bisa menggeser brand lokal itu kurang tepat. Justru banyak pelanggan kami yang bilang, keduanya bisa saling mendukung,” tambahnya.
Melihat peluang itu, Dethrifts tidak hanya fokus berjualan, tetapi juga aktif membangun komunitas dan ekosistem thrifting di Sambas. Melalui program kemitraan, mereka menyediakan paket usaha lengkap bagi pemula maupun pelaku berpengalaman. Setiap mitra bahkan dibekali dengan perangkat manajemen bisnis seperti tools Excel untuk mempermudah pengelolaan usaha secara profesional dan efisien.
Dengan strategi yang menekankan nilai, kolaborasi, dan keberlanjutan, Wibowo optimistis bisnis thrifting di Sambas akan tetap eksis di tengah fluktuasi pasar.
Sementara itu, Sesil, salah satu pecinta thrifting asal Sambas, mengaku lebih memilih berburu pakaian preloved dibandingkan membeli barang baru. Menurutnya, sensasi mencari barang langka menjadi daya tarik tersendiri dari dunia thrifting.
“Kalau thrifting itu bahannya bagus, harganya juga lebih murah. Kadang bisa dapat barang branded dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Di Sambas banyak tempat thrifting, saya biasanya keliling dari pasar ke toko-toko karena sensasinya seru,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun menghadapi tekanan ekonomi, thrifting tetap memiliki daya hidup dan komunitas yang kuat di Sambas — menjadi simbol kreativitas, keberlanjutan, dan gaya hidup cerdas masyarakat modern.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS














