IDAI Ingatkan Anak Sangat Rentan Saat Banjir: Rawat Kesehatan Fisik dan Mental Mereka

  • Bagikan
Ilustrasi – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (tengah) didampingi Wakil Gubernur Sumut Surya (kiri) menyapa pengunsi di Posko Bencana Hinai, Langkat, Sumatera Utara, Ahad (30/11/2025). SUARAINDO.ID/SK

Suaraindo.id – Di tengah bencana banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan dan harus menjadi prioritas dalam penanganan darurat.

Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa kondisi kesehatan fisik dan mental anak perlu mendapat perhatian ekstra karena mereka rentan mengalami berbagai gangguan kesehatan, mulai dari infeksi saluran pernapasan, diare, penyakit kulit, hingga trauma psikologis.

“Dalam situasi banjir, anak-anak tidak hanya berisiko terserang penyakit menular, tetapi juga dapat mengalami stres dan rasa takut yang berkepanjangan. Kesehatan fisik dan mental mereka harus dipastikan tetap terjaga,” tegas Piprim.

Menurut IDAI, lingkungan yang kotor dan air yang tercemar dapat menjadi medium penyebaran berbagai penyakit. Anak-anak, terutama balita, lebih mudah terpapar karena sistem kekebalan tubuh mereka belum sekuat orang dewasa.

Beberapa risiko kesehatan yang sering dialami anak saat banjir antara lain:

Infeksi saluran pernapasan akibat udara lembab dan tempat pengungsian yang padat

Diare akibat konsumsi air atau makanan yang tidak higienis

Penyakit kulit seperti gatal, infeksi jamur, iritasi, atau alergi

Leptospirosis akibat kontak dengan air banjir yang terkontaminasi urine hewan

IDAI mengimbau orang tua memastikan anak tidak bermain di air banjir, mengonsumsi air matang, serta menjaga kebersihan makanan dan pakaian.

Tidak hanya kesehatan fisik, kondisi psikologis anak juga berpotensi terganggu saat mengalami bencana. Banyak anak menunjukkan gejala kecemasan, sulit tidur, mudah menangis, hingga trauma setelah menyaksikan banjir.

“Pemulihan psikologis anak sama pentingnya. Orang tua harus memberikan rasa aman, menjaga rutinitas sederhana, dan mengajak anak beraktivitas positif selama masa pengungsian,” kata Piprim.

IDAI menyarankan untuk memberikan pendampingan emosional, membatasi paparan anak terhadap berita bencana, serta menyediakan ruang aman bagi mereka untuk bermain dan mengekspresikan perasaan.

IDAI mendorong pemerintah daerah dan pihak terkait untuk memperkuat layanan kesehatan di posko-posko pengungsian, termasuk menyediakan obat-obatan, air bersih, makanan bergizi, serta dukungan psikososial bagi anak-anak.

“Setiap posko pengungsian harus ramah anak dan menyediakan layanan kesehatan yang memadai. Anak-anak harus menjadi kelompok yang benar-benar dilindungi,” ujar Piprim.

IDAI berharap masyarakat tetap waspada dan tidak menyepelekan kondisi anak dalam situasi darurat. Pencegahan dan penanganan dini menjadi kunci untuk menghindari dampak kesehatan jangka panjang pada generasi muda.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

  • Bagikan