Kemenparekraf Dorong Audio Description, Film Dinilai Jadi Ruang Budaya yang Lebih Inklusif

  • Bagikan
Direktur Film, Animasi dan Video Kementerian Ekonomi Kreatif Doni Setiawan dalam sambutannya di acara program film radio kolaborasi Radio Republik Indonesia dengan Komisi Penyiaran Indonesia di Auditorium RRI, Jakarta, Senin (8/11/2025).SUARAINDO.ID/SK

Suaraindo.id – Direktur Film, Animasi, dan Video Kementerian Ekonomi Kreatif, Doni Setiawan, menilai penerapan audio description dalam penyiaran film merupakan terobosan penting untuk membuka akses budaya yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Inovasi ini diyakini mampu memastikan kebudayaan Indonesia dapat dinikmati tanpa batas, termasuk oleh kelompok penyandang disabilitas.

Hal tersebut disampaikan Doni saat memberikan sambutan pada acara program film radio hasil kolaborasi Radio Republik Indonesia (RRI) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Auditorium RRI, Jakarta, Senin.

“Ketika film diakses melalui audio description, ketika narasi dirancang lebih inklusif, dan ketika ruang penyiaran dibuka bagi penonton dengan ragam kebutuhan, maka sesungguhnya kita sedang memastikan bahwa kebudayaan Indonesia dapat dinikmati oleh seluruh warga negara tanpa kecuali,” ujar Doni.

Menurut Doni, film merupakan medium budaya yang memiliki kekuatan khas dalam menyampaikan nilai bahasa serta keberagaman Indonesia, yang sulit digantikan oleh medium lain. Oleh karena itu, menghadirkan film dalam format film radio menjadi langkah konkret untuk memastikan inklusi sebagai bagian dari praktik kebudayaan yang setara dan ramah bagi semua.

Ia menjelaskan, film radio merupakan bentuk penyiaran film melalui platform radio yang dilengkapi dengan deskripsi audio. Deskripsi tersebut menggambarkan adegan, suasana, hingga ekspresi para pemain, sehingga membantu kelompok disabilitas, khususnya penyandang tuna netra, untuk menikmati alur cerita secara utuh.

Doni menegaskan, kolaborasi multipihak menjadi kunci keberhasilan ekosistem perfilman yang inklusif. Mulai dari KPI dan RRI sebagai lembaga penyiaran, komunitas disabilitas, hingga pemerintah sebagai regulator yang memastikan standar penyiaran yang berpihak pada inklusivitas.

“Kolaborasi semacam ini adalah prasyarat bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai negara dengan ekosistem kreatif yang berorientasi pada keberagaman dan inklusi,” katanya.

Ia juga menilai peran aktif RRI dan KPI dalam membuka ruang berkarya serta diskusi yang inklusif menjadi modal penting bagi masa depan perfilman nasional. Pemerintah, kata Doni, optimistis industri film Indonesia akan bergerak ke arah yang semakin inklusif, inovatif, dan berdaya saing.

Lebih lanjut, Kementerian Ekonomi Kreatif menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem perfilman nasional melalui peningkatan akses distribusi, perlindungan hak cipta, pengembangan kapasitas pelaku film, serta penguatan kemitraan strategis antara industri perfilman, platform digital, dan para pemangku kepentingan lainnya.

“Semua upaya ini diarahkan untuk menciptakan ekosistem perfilman Indonesia yang tidak hanya kompetitif secara global, tetapi juga menjunjung tinggi nilai keadilan dan inklusivitas,” tutup Doni.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

  • Bagikan