SuaraIndo.Id — Dewan Pimpinan Pusat Fakar Indonesia menilai bahwa penguatan karakter dan kesadaran sumber daya manusia (SDM) jauh lebih mendesak dibandingkan sekadar percepatan pembangunan fisik.
Hal ini disampaikan sebagai refleksi atas arah pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Ketua Umum DPP Fakar Indonesia, Aka Cholik Darlin, SPdI, SH, MM, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi memang penting sebagai simbol kemajuan bangsa.
Namun, menurutnya, tanpa fondasi karakter yang kuat, kemajuan tersebut berisiko kehilangan makna dan keberlanjutan.
“Kita tentu mendukung pembangunan fisik, karena itu kebutuhan dasar negara. Tetapi yang lebih mendesak saat ini adalah pembangunan manusia.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi kita membutuhkan manusia-manusia yang berkarakter, beretika, dan memiliki kesadaran kebangsaan yang kokoh,” ujar Aka dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/2).
Ia menyoroti fenomena sosial yang berkembang di tengah masyarakat, seperti menurunnya budaya saling menghormati, melemahnya disiplin publik, serta meningkatnya polarisasi dalam kehidupan politik.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alarm bahwa pembangunan karakter belum berjalan optimal.
Aka menilai, momentum pemerintahan Presiden Prabowo harus dimanfaatkan untuk memperkuat agenda pembangunan mental dan moral bangsa secara sistematis.
Ia mendorong agar kebijakan nasional tidak hanya berorientasi pada target pertumbuhan dan angka statistik, tetapi juga pada pembentukan integritas dan tanggung jawab sosial.
“Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki jalan tol panjang atau gedung-gedung tinggi.
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang rakyatnya memiliki etika, menjunjung persatuan, dan sadar akan tanggung jawab sebagai warga negara,” tegasnya.
Lebih lanjut, Fakar Indonesia mengusulkan agar pendidikan karakter, wawasan kebangsaan, dan nilai-nilai moral menjadi arus utama dalam sistem pendidikan dan tata kelola birokrasi.
Keteladanan para pemimpin, menurut Aka, juga menjadi faktor kunci dalam membangun budaya publik yang sehat.
Ia menambahkan, pembangunan fisik tanpa diimbangi dengan pembangunan mental berpotensi melahirkan kemajuan yang rapuh.
Sebaliknya, karakter yang kuat akan menjadi fondasi bagi keberlanjutan pembangunan dalam jangka panjang.
“Kalau karakternya kokoh, maka pembangunan fisik akan terjaga. Tetapi jika karakter lemah, maka sehebat apa pun infrastruktur yang dibangun bisa kehilangan arah.
Karena itu, penguatan karakter adalah kebutuhan mendesak bangsa saat ini,” pungkas Aka.
Fakar Indonesia menyatakan siap berkontribusi melalui berbagai program sosial dan pendidikan untuk mendukung agenda penguatan karakter nasional demi terwujudnya Indonesia yang maju, berdaulat, dan bermartabat. ***













