SUARAINDO.ID ——– Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam membantu masyarakat miskin dan miskin ekstrem melalui berbagai program bantuan sosial, terutama pada momentum bulan Ramadan yang dinilai sebagai waktu yang tepat untuk berbagi.
Menurutnya, bantuan tersebut menyasar masyarakat yang berada pada kelompok desil 1 hingga desil 2, yakni kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah.
“Bantuan ini kita berikan kepada masyarakat miskin ekstrem dan miskin. Makanya tadi disebutkan dari desil satu sampai desil dua dan seterusnya sesuai batas yang bisa diperoleh masyarakat,” ujarnya.
Bupati menjelaskan, pada tahun ini Pemerintah Kabupaten Lombok Timur hanya mampu mengalokasikan anggaran sekitar Rp30 miliar untuk program bantuan tersebut.
Meski demikian, Bupati berharap dukungan anggaran di tahun-tahun mendatang dapat tetap terjaga atau bahkan meningkat agar program pengentasan kemiskinan dapat berjalan lebih optimal.
“Untuk tahun ini kita hanya mampu sekitar 30 miliar. Bagaimana tahun depan, tentu kita lihat kondisi anggaran. Mudah-mudahan bisa bertahan dan tidak menurun,” katanya.
Haerul Warisin juga menanggapi berbagai kritik yang muncul terkait pemberian bantuan sosial yang dinilai sebagian pihak dapat menumbuhkan mental ketergantungan pada bantuan pemerintah.
Menurutnya, bantuan tersebut diberikan pada momen yang tepat dan dalam kondisi mendesak.
Bupati menilai momentum Ramadan menjelang Idulfitri menjadi waktu yang sangat penting bagi masyarakat, termasuk bagi keluarga kurang mampu yang ingin merasakan kebahagiaan yang sama saat merayakan hari raya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati menegaskan bahwa penentuan penerima bantuan didasarkan pada data resmi yang diverifikasi hingga tingkat desa.
Menurutnya, data tersebut tidak mungkin muncul tanpa pengesahan dari kepala desa setempat.
Bupati mengingatkan agar setiap perubahan kondisi ekonomi warga segera dilaporkan oleh pemerintah desa agar data kemiskinan tetap akurat dan tepat sasaran.
“Kalau ada perubahan kondisi seseorang yang sebelumnya miskin kemudian sudah tidak miskin lagi, itu harus segera dilaporkan. Kita tidak boleh lari dari data yang sudah ada,” tegasnya.
Bupati juga menanggapi angka kemiskinan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat tingkat kemiskinan sekitar 13,44 persen.
Angka tersebut dapat menurun,mseiring pertumbuhan ekonomi daerah yang mencapai sekitar 6 persen.
“Kalau pertumbuhan ekonomi kita sekitar enam persen, tentu dampaknya akan menurunkan angka kemiskinan. Insya Allah kalau dilakukan sensus kembali, angkanya bisa lebih rendah,” pungkasnya.
Pemerintah daerah berharap program bantuan sosial yang disalurkan, dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar serta meringankan beban ekonomi, khususnya menjelang perayaan Idulfitri.
Salurkan Bantuan untuk Masyarakat Miskin Ekstrem di Bulan Ramadan













