Semangat Santri Tuli di Pontianak Belajar Al-Qur’an dengan Bahasa Isyarat di Bulan Ramadan

  • Bagikan
Santri Mahtab Tuli As-Sami belajar mengaji menggunakan bahasa isyarat dengan bimbingan seorang guru. SUARAINDO.ID/SK

Suaraindo.id – Di sebuah gang kecil di kawasan Jalan Kom Yos Sudarso, Kota Pontianak, terdapat sebuah yayasan yang memberikan ruang belajar mengaji bagi anak-anak penyandang tuli. Tempat tersebut adalah Mahtab Tuli As-Sami, sebuah lembaga yang mengajarkan santri membaca Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat.

Memasuki bulan suci Ramadan, semangat para santri di yayasan tersebut tidak surut. Meski harus menahan lapar dan dahaga saat berpuasa, mereka tetap tekun belajar mengaji dengan cara menggerakkan jari-jari tangan untuk melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an melalui bahasa isyarat.

Sejak pukul 13.00 WIB, para santri mulai berdatangan ke lokasi belajar. Bersama dua orang tenaga pengajar, mereka terlihat fokus mengikuti pembelajaran. Gerakan tangan yang lincah menjadi cara mereka membaca ayat suci, sementara sesekali bibir mereka tampak ikut melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an.

Pengurus sekaligus pengajar di Mahtab Tuli As-Sami, Muhammad Romli, mengatakan bahwa selama Ramadan kegiatan para santri lebih difokuskan pada membaca Al-Qur’an, menghafal surat-surat pendek, serta belajar menjalankan ibadah puasa.

“Selama bulan Ramadan ini memang fokus memperbanyak membaca Al-Qur’an. Alhamdulillah mereka juga diajarkan berpuasa, dan sampai saat ini tidak ada yang bolong. Selama berpuasa di sini mereka Alhamdulillah full,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (6/3/2026).

Romli menjelaskan, pada tahun ini terdapat sekitar 64 santri yang belajar di yayasan tersebut dengan rentang usia antara 12 hingga 15 tahun.

Selain belajar mengaji, para santri juga diajak mengikuti berbagai kegiatan sosial selama Ramadan. Salah satunya adalah membagikan takjil kepada masyarakat sebagai bentuk pembelajaran tentang kepedulian dan semangat berbagi.

“Selama Ramadan ini selain mengaji, kami juga ada kegiatan membagikan takjil, kemudian nanti juga ada buka puasa bersama,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa yayasan tersebut masih membuka kesempatan bagi para relawan yang ingin menjadi tenaga pengajar, khususnya yang memiliki kemampuan bahasa isyarat.

Menurut Romli, jumlah guru agama yang mampu menggunakan bahasa isyarat di Pontianak masih sangat terbatas.

“Kalau di Pontianak setahu saya belum terlalu banyak guru agama yang bisa bahasa isyarat. Di sini kami masih membuka kesempatan relawan atau volunteer untuk membantu mengajar,” katanya.

Melalui kegiatan belajar mengaji ini, diharapkan para santri tuli tetap memiliki kesempatan yang sama dalam mempelajari Al-Qur’an serta merasakan makna ibadah Ramadan seperti umat Muslim pada umumnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
  • Bagikan