BPS Paparkan Potret Data Lombok Timur

  • Bagikan

SUARAINDO.ID —— Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lombok Timur memaparkan potret capaian pembangunan daerah selama 30 tahun otonomi daerah melalui data Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan pengangguran.

‎Kasubag Umum BPS Lombok Timur, Zainul Irfan, sebagai bahan refleksi berbasis data, bukan sekadar persepsi.

‎Menurut Zainul, selama lima tahun terakhir IPM Lombok Timur menunjukkan tren meningkat. Pada 2021 IPM tercatat 68,90, naik menjadi 69,83 pada 2022, meningkat lagi pada 2023 menjadi 71,48, dan mencapai 72,35 pada 2025. Sejak 2024, IPM Lombok Timur telah masuk kategori tinggi.

‎“Silakan diinterpretasikan. Kami hanya menyampaikan potret data di lapangan,” ujarnya.

‎Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Lombok Timur juga memperlihatkan tren positif meski sempat mengalami perlambatan.

‎Pada 2021 pertumbuhan ekonomi berada di angka 3,12 persen, naik menjadi 3,18 persen pada 2022, melonjak ke 4,31 persen pada 2023, kemudian turun pada 2024 di kisaran 4,2 persen, sebelum kembali meningkat signifikan pada 2025 menjadi 4,93 persen.

‎Sementara itu, angka kemiskinan menunjukkan tren menurun dalam dua tahun terakhir. Pada 2021 tercatat 15,38 persen, turun menjadi 15,14 persen pada 2022, sempat naik di 2023 menjadi 15,63 persen, kemudian turun tajam di 2024 menjadi 14,51 persen, dan kembali turun di 2025 menjadi 13,63 persen.

‎Adapun tingkat pengangguran mengalami fluktuasi. Pada 2021 berada di angka 2,79 persen, turun menjadi 1,51 persen pada 2022, naik ke 2,47 persen pada 2023, 2,53 persen pada 2024, dan kembali meningkat di 2025 menjadi 2,82 persen.

‎“Jika dilihat dari dua tahun terakhir, perkembangan Lombok Timur dari sisi data menunjukkan kondisi yang sangat baik. Ini bisa menjadi masukan bagi pemerintah daerah agar capaian ini dipertahankan dan ditingkatkan,” kata Zainul.

‎Zainul menjelaskan, seluruh data yang disajikan BPS diperoleh melalui metode survei terstandar, baik bulanan, triwulanan, maupun tahunan, serta sensus yang memiliki margin of error sangat kecil karena berbasis pencacahan menyeluruh.

‎Dalam kesempatan itu, Zainul juga menyosialisasikan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang akan digelar secara nasional oleh BPS.

‎Sensus ini dilaksanakan setiap 10 tahun sekali, terakhir pada 2016, dan kembali dilaksanakan pada 2026 untuk memotret kondisi ekonomi Indonesia secara komprehensif.

‎Pelaksanaan sensus dimulai 1 Mei hingga 31 Agustus 2026, dengan pencacahan lapangan pada 16 Juli sampai 31 Agustus 2026 melalui metode door to door.

‎Seluruh usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat akan didata, kecuali usaha yang melanggar hukum.

‎BPS Lombok Timur juga membuka rekrutmen 1.339 petugas sensus pada 8–12 Mei 2026. Informasi pendaftaran dapat diakses melalui akun Instagram resmi BPS Lombok Timur.

‎Zainul menambahkan, data ketimpangan yang diukur melalui gini rasio menunjukkan kondisi yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

‎Lombok Timur berada pada posisi relatif baik dibanding daerah lain di NTB, yang mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan pemerataan kesejahteraan.

‎Zainul juga menyoroti kontribusi sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh hingga 9,85 persen pada 2025. Pertumbuhan ini dipengaruhi meningkatnya aktivitas usaha di sektor tersebut, termasuk dukungan perizinan dan geliat usaha mikro di daerah.

‎“Dari potret data BPS, baik pertumbuhan ekonomi maupun kesejahteraan masyarakat Lombok Timur menunjukkan arah yang positif,” pungkasnya.

Penulis: nanangEditor: Redaksi
  • Bagikan