Edukasi Gizi Digencarkan di Agam, Aisyiyah dan YAICI Soroti Bahaya Kental Manis untuk Anak Pascabencana

  • Bagikan

Suaraindo.id– Upaya pemulihan pascabencana di Kabupaten Agam tidak hanya difokuskan pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga menyasar kesehatan masyarakat, khususnya pemenuhan gizi.

Hal ini terlihat dalam kegiatan edukasi gizi yang digelar Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Jumat (1/5/2026).

Kegiatan tersebut menyasar ibu hamil, ibu menyusui, serta keluarga dengan balita, guna meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pola konsumsi gizi seimbang setelah masa tanggap darurat bencana berakhir.

Wakil Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Chairunnisa, mengatakan program ini merupakan bagian dari gerakan nasional yang dilaksanakan di tiga wilayah terdampak bencana.

“Program ini kami jalankan di tiga provinsi, yakni Langkat di Sumatera Utara, Aceh Tamiang di Aceh, dan di Sumatera Barat tepatnya di Kabupaten Agam, Nagari Salareh Aia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, saat masa tanggap darurat, masyarakat umumnya mengonsumsi bantuan makanan instan. Namun pola tersebut tidak boleh berlanjut dalam masa pemulihan.

“Dalam kondisi darurat, bantuan yang datang memang banyak berupa makanan instan. Bahkan ada juga susu kental manis yang dianggap sebagai susu, padahal itu tidak sesuai untuk kebutuhan gizi anak,” tegasnya.

Chairunnisa menyoroti masih banyaknya masyarakat yang mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu anak, padahal produk tersebut mengandung sekitar 40–50 persen gula dan rendah protein.

“Ini tidak dirancang sebagai sumber gizi. Jika terus dikonsumsi, berisiko menyebabkan kekurangan gizi pada anak,” katanya.

Senada, Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudhistira, menyebut pihaknya bersama Aisyiyah telah lama mengkaji persoalan tersebut melalui berbagai penelitian dan survei.

“Kami bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi untuk memahami kenapa kental manis masih dijadikan minuman susu anak di masyarakat,” ujarnya.

Dari hasil kajian tersebut, lanjutnya, disusun berbagai program edukasi, termasuk untuk masyarakat terdampak bencana.

“Anak-anak dan perempuan menjadi kelompok paling rentan terhadap kesalahan pola konsumsi. Karena itu edukasi seperti ini sangat penting,” tambahnya.

Chairunnisa juga mengingatkan bahwa kebiasaan konsumsi yang tidak tepat dapat memicu masalah gizi kronis, seperti stunting.

“Terutama pada anak di bawah dua tahun, risiko stunting sangat besar jika asupan gizinya tidak terpenuhi,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap masyarakat mampu menerapkan pola makan bergizi seimbang bagi seluruh anggota keluarga, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Sementara itu, Camat Palembayan, Endrisasman, mengapresiasi kegiatan tersebut dan menilai sangat membantu proses pemulihan masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian PP Aisyiyah dan YAICI. Semoga kegiatan ini berdampak positif, baik dari sisi gizi maupun psikologis masyarakat,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa trauma pascabencana masih dirasakan oleh anak-anak di wilayahnya.

“Banyak anak-anak masih takut saat hujan turun, bahkan ada yang enggan kembali ke rumahnya. Ini menunjukkan trauma mereka masih cukup dalam,” ujarnya.

Dengan adanya edukasi gizi dan kegiatan trauma healing, diharapkan kondisi mental anak-anak serta kualitas kesehatan masyarakat dapat pulih secara bertahap.

“Mudah-mudahan kegiatan ini membawa perubahan nyata, baik dari sisi mental maupun pemenuhan gizi masyarakat di Nagari Salareh Aia,” tutupnya.

Penulis: RedEditor: Yusman
  • Bagikan