suaraindo.id – Kongres Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) tahun ini diposisikan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum strategis untuk melahirkan rekomendasi nyata bagi negara. Ketua Panitia Kongres, Benyamin Patondok atau akrab disapa Bento, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk menjawab tantangan kebangsaan yang kian kompleks. Hal itu disampaikan Bento saat memberikan kata sambutan dalam pembukaan kongres PIKI, Kamis (30/4) di Lumire Hotel, Jakarta Pusat.
Dalam suasana pembukaan yang sarat refleksi kebangsaan, disampaikan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi dinamika global yang tidak sederhana. Peran negara-negara besar dalam konflik internasional membawa dampak luas, bahkan hingga menyentuh kelompok paling rentan seperti perempuan dan anak-anak. Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa ketahanan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh soliditas internalnya.
“Banyak negara yang hancur karena tidak mampu menjaga persatuan. Hal yang sama bisa terjadi pada kita jika tidak kokoh,” menjadi pesan kuat yang mengemuka dalam forum tersebut.
PIKI, sebagai wadah intelektual, dipandang memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar diskursus. Kongres ini diarahkan untuk memperkuat kontribusi nyata dalam menjaga persatuan nasional, terlebih di tengah derasnya arus informasi dan apa yang disebut sebagai “perang media”. Media sosial, diakui, memainkan peran strategis dalam membentuk opini publik, baik sebagai perekat maupun pemicu disintegrasi.
Dalam konteks tersebut, kongres menjadi ruang konsolidasi gagasan untuk memastikan bahwa keberagaman bangsa Indonesia tetap menjadi kekuatan, bukan kelemahan. “Bangsa ini milik kita bersama, dibentuk dari berbagai kelompok, dan justru di situlah kekuatannya,” menjadi penegasan nilai yang diangkat.
Bento, mengungkapkan bahwa persiapan kongres telah dimulai sejak Januari dan melibatkan dukungan luas dari berbagai elemen PIKI. Dengan kebutuhan anggaran mencapai Rp900 juta, pelaksanaan kongres ini disebut sebagai hasil gotong royong kolektif, mulai dari jajaran pengurus pusat hingga panitia di berbagai lini.
Apresiasi juga disampaikan kepada Ketua Umum PIKI, DR. Badikenita br Sitepu, yang dinilai berhasil memperluas struktur organisasi hingga terbentuk 29 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan 89 Dewan Pimpinan Cabang (DPC). Capaian ini menjadi fondasi penting bagi penguatan peran PIKI secara nasional.
Selain itu, dukungan dari berbagai pihak, termasuk tokoh internal seperti Baktinendra, turut menjadi faktor kunci terselenggaranya kongres. Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa PIKI tidak bergerak sendiri, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas dalam membangun kontribusi bagi bangsa.
Pembukaan kongres dibuka oleh Kepala Staf Kepresidenan, Dudung Abdurachman, yang ditandai dengan pemukulan gong sebagai simbol dimulainya forum strategis tersebut.
Lebih jauh, pengalaman lintas sektor yang dimiliki para tokoh PIKI termasuk kontribusi dalam membangun kehidupan beragama di lingkungan institusi negara menjadi modal sosial yang memperkaya perspektif organisasi. Hal ini mempertegas bahwa PIKI tidak hanya berbicara dari ruang akademik, tetapi juga dari pengalaman praksis di lapangan.
Melalui kongres ini, PIKI menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari solusi nasional. Bukan sekadar forum pertemuan, tetapi ruang produksi gagasan yang diharapkan mampu menjawab persoalan konkret bangsa, mulai dari tantangan sosial, ketahanan nasional, hingga pengelolaan keberagaman.
Kongres PIKI, dengan demikian, menjadi penanda bahwa intelektualitas yang terorganisir dapat bertransformasi menjadi kekuatan strategis. Sebuah langkah untuk memastikan bahwa pemikiran tidak berhenti di ruang diskusi, tetapi hadir sebagai rekomendasi nyata untuk masa depan Indonesia.













