Korwil BPD HIPMI SUMSEL Melihat Peluang Perkebunan Karet Berkelanjutan, Togar : Harga Karet Sudah Mendekati Rp. 40.000/kg!

  • Bagikan
Foto : M Togar Rayditya, Korwil BPD HIPMI Sumsel (Dok)

SuaraIndo.Id – Harga karet dunia di bursa Singapore Exchange SICOM kembali menunjukkan tren penguatan signifikan pada perdagangan awal Mei 2026. Harga TSR20 tercatat telah menembus level 222,6 US Cent/kg, yang jika dikonversikan dengan kurs rupiah saat ini mencapai sekitar Rp38.454 per kilogram.

Angka tersebut menjadi salah satu level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan semakin mendekati psikologis Rp40.000/kg.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tren anak muda mengejar sektor teknologi, ada satu sektor lama yang diam-diam kembali menunjukkan masa depannya: perkebunan karet.

Kenaikan harga karet dunia yang terus bergerak positif hingga mendekati Rp40.000/kg menjadi sinyal bahwa komoditas ini belum kehilangan relevansinya.

Justru sebaliknya, dunia sedang kembali mencari bahan baku alam yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan memiliki nilai industri jangka panjang.

Bagi generasi muda, proses ini bukan sekadar cerita tentang menyadap pohon karet seperti masa lalu. Ini adalah peluang membangun industri modern berbasis perkebunan berkelanjutan.

Karet hari ini tidak lagi hanya berbicara soal kebun tradisional, tetapi tentang green economy, hilirisasi industri, carbon credit, hingga kebutuhan global terhadap bahan baku kendaraan listrik dan industri manufaktur dunia.

Anak muda Indonesia perlu mulai melihat bahwa sektor perkebunan bukan sektor kuno. Justru di tangan generasi baru, perkebunan karet bisa naik kelas menjadi bisnis modern berbasis teknologi dan keberlanjutan.

Mulai dari penggunaan drone untuk pemetaan lahan, digitalisasi rantai distribusi, pengolahan produk turunan, hingga pembangunan merek lokal berbasis sustainable rubber.

Dunia sedang bergerak menuju ekonomi hijau, dan Indonesia memiliki salah satu kekuatan alam terbesar di sektor ini dan tak lupa Indonesia adalah penghasil karet alam terbesar nomor 2 di dunia dan eksportir karet terbesar dunia.

“Sumatera, Kalimantan, hingga sebagian wilayah Sulawesi memiliki jutaan hektare potensi karet yang belum dikelola secara maksimal. Ketika harga global naik dan permintaan dunia kembali meningkat, momentum ini seharusnya tidak hanya dinikmati oleh pasar besar atau eksportir lama, tetapi juga menjadi ruang kebangkitan generasi muda desa dan daerah.” Pungkas Korwil M Togar Rayditya

Perkebunan karet berkelanjutan juga membuka peluang besar dalam menciptakan lapangan kerja baru, membangun ekonomi daerah, dan menjaga keseimbangan lingkungan. Pohon karet menyerap karbon, menjaga tutupan hijau, dan dapat menjadi bagian dari solusi perubahan iklim jika dikelola secara benar.

Inilah alasan mengapa banyak negara mulai kembali melirik komoditas berbasis alam yang jauh lebih berkualitas dibanding material sintetis. Peluang hilirisasi karet alam juga terdapat dalam kerjasama dengan perusahaan pembuat sarung tangan medis melalui latex.

“Kini saatnya anak muda berhenti memandang perkebunan hanya sebagai pekerjaan generasi terdahulu. Masa depan sektor pangan, energi, dan bahan baku dunia justru akan banyak ditentukan oleh mereka yang mampu menggabungkan alam, teknologi, dan visi bisnis modern.

Lalu, di tengah kenaikan harga global saat ini, karet bisa menjadi salah satu peluang besar Indonesia untuk melahirkan generasi pengusaha muda baru dari akar tanahnya sendiri yang bisa main sampai level global.” Tutup Korwil BPD HIPMI Sumsel itu ***

  • Bagikan