SuaraIndo.id — Warga Dusun 1 Desa Tebing Abang, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, menyatakan sikap tegas dalam rapat bersama terkait program Optimalisasi Lahan (Oplah) dan rencana masuknya perusahaan kelapa sawit PT RKS (Rahmat Kelantan Sakti), Sabtu (2/5/2026).
Rapat yang digelar di depan rumah Kepala Desa Tebing Abang itu dihadiri perangkat desa, anggota BPD, tokoh masyarakat, serta puluhan warga. Forum tersebut membahas dua agenda utama, yakni pelaksanaan program Oplah dan rencana pengelolaan lahan tidur oleh perusahaan sawit di wilayah Dusun 1.
Kepala Desa Tebing Abang, Nuhasim, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kekompakan masyarakat dalam menyikapi program Oplah yang direncanakan mencakup Dusun 1 hingga Dusun 3.
“Yang terpenting kita kompak dulu. Program ini harus disepakati bersama, terutama terkait lahan,” ujarnya.
Nuhasim juga mengungkapkan bahwa dirinya mendapat arahan dari Bupati Banyuasin, H. Askolani, untuk memfasilitasi rencana investasi PT RKS di lahan tidur desa. Namun demikian, ia menegaskan bahwa keputusan tetap berada di tangan masyarakat.
Sementara itu, tokoh masyarakat Masohan menjelaskan bahwa program Oplah merupakan program dari Kementerian Pertanian yang bertujuan meningkatkan produktivitas lahan rawa melalui perbaikan tata air dan infrastruktur.
“Program ini menguntungkan masyarakat karena hasilnya kembali ke pemilik lahan. Bahkan dalam tiga tahun pertama, hasilnya tetap untuk masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa izin prinsip perusahaan sawit di wilayah tersebut sebelumnya telah dicabut. Karena itu, masyarakat lebih mengharapkan program pemerintah berupa Oplah dan cetak sawah dibandingkan investasi perkebunan.
Hal senada disampaikan Basri, koordinator masyarakat dalam program Oplah. Ia menyebut selama ini Desa Tebing Abang belum tersentuh pembangunan sektor pertanian secara maksimal.
“Kami ingin desa ini mendapat perhatian serius, khususnya dalam pengembangan pertanian,” ujarnya.
Roni Paslah, perwakilan warga, menambahkan bahwa lahan tidur di Dusun 1 mencapai sekitar 1.074 hektare dan hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Masyarakat berharap pemerintah hadir untuk melindungi lahan pertanian dari praktik mafia tanah dan kepentingan kapital,” tegasnya.
Roni juga mengungkap adanya dugaan hambatan dari oknum tertentu yang menghalangi masuknya program cetak sawah ke wilayah tersebut. Ia meminta pemerintah bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang menghambat pembangunan.
Dalam forum yang berlangsung secara musyawarah tersebut, warga secara bulat menyatakan sikap:
1. Mendukung penuh pelaksanaan Program Oplah di wilayah Dusun 1 hingga Dusun 3.
2. Mendesak Pemerintah Kabupaten Banyuasin segera merealisasikan program cetak sawah di lahan tidur seluas ±1.074 hektare.
3. Menolak tegas rencana pengelolaan lahan oleh PT RKS maupun perusahaan lain.
4. Meminta pemerintah menindak oknum yang menghambat program pembangunan dan melindungi hak masyarakat atas lahan.
Rapat ditutup dengan suasana kondusif dan penuh kekeluargaan, menegaskan komitmen warga untuk mengutamakan sektor pertanian sebagai masa depan desa.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS













