SuaraIndo.id — Di tengah kepungan asap dan kobaran api yang membakar lahan gambut di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Bupati Ketapang Alexander Wilyo bersama Dandim 1203/Ketapang turun langsung ke garis pemadaman, Minggu (5/9/2026).Bupati Ketapang Alexander Wilyo saat turun langsung melalui pemadaman Karhutla di wilayah kecamatan Matan Hilir Utara.
Tiba di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB, keduanya tidak sekadar memantau dari kejauhan. Bupati dan Dandim langsung memegang nozzle dan membantu menyemprotkan air ke titik api yang mengancam kawasan sekitar, termasuk SMA Negeri 1 Matan Hilir Utara.
Pemadaman dilakukan bersama Kapolsek Matan Hilir Utara, Camat MHU, Kepala Desa Kuala Tolak serta personel gabungan TNI-Polri, BPBD, Dinas Perhubungan, Satpol PP, Manggala Agni dan relawan. Medan gambut dan asap pekat menjadi tantangan tersendiri, namun api akhirnya berhasil dikendalikan.
Di tengah operasi pemadaman, petugas juga menemukan seekor ular piton berukuran sekitar enam meter yang terjebak di semak-semak terbakar. Satwa tersebut berhasil dievakuasi. Penyelamatan itu menjadi gambaran bahwa penanganan karhutla bukan hanya tentang memadamkan api, tetapi juga menyelamatkan kehidupan yang terancam.
Respons terhadap masyarakat terdampak juga berjalan bersamaan. BPBD, Dishub dan Karang Taruna menyalurkan air bersih ke permukiman padat di Jalan Sungai Jahak. Tim Puskesmas bersama Karang Taruna dan Barisan Pendekar Wira Utama (BPWU) turut membagikan masker kepada warga sebagai langkah perlindungan dari paparan asap.
Setelah pekerjaan di lapangan mereda, suasana berubah sederhana. Alexander, Dandim dan personel gabungan duduk lesehan bersama, menikmati nasi bungkus di tengah kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi pemadaman.
Tidak ada sekat jabatan. Hanya kelelahan yang sama dan rasa syukur karena api berhasil dikendalikan.
Alexander mengatakan penanganan karhutla membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan personel dan peralatan. Yang tidak kalah penting adalah kepedulian, kecepatan bergerak dan kesediaan seluruh unsur untuk turun bersama ketika masyarakat membutuhkan.
“Keberanian bukan sekadar soal memadamkan api, tetapi tentang ketulusan untuk saling menjaga. Saat semua unsur bersatu tanpa sekat demi warga dan alamnya, di situlah ikatan persaudaraan kita diuji dan terbukti nyata,” ujar Alexander.
Ia menegaskan, pemerintah, aparat, relawan dan masyarakat harus terus memperkuat gotong royong menghadapi karhutla yang masih menjadi ancaman di Ketapang.
“Ketapang adalah rumah besar kita semua. Saat bencana datang menguji, mari rapatkan barisan untuk menjaga, merawat dan membangunnya bersama-sama,” katanya.
Di Kuala Tolak, api memang berhasil dikendalikan. Namun pesan yang tertinggal jauh lebih luas: di tengah bencana, kemanusiaan tidak boleh ikut terbakar. Menjaga warga, lingkungan dan setiap kehidupan yang terdampak menjadi tanggung jawab bersama.