SUARAINDO.ID ------- Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, terus menunjukkan daya tariknya sebagai salah satu destinasi wisata berbasis budaya dan kerajinan.
Keunikan kerajinan anyaman bambu di desa tersebut menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara.
Pelaku Wisata Desa Loyok, Lalu Arya Karme, mengatakan dalam beberapa kunjungan, ratusan wisatawan mancanegara datang ke Desa Loyok untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan kerajinan bambu sekaligus belajar menganyam secara langsung bersama para perajin setempat.
Lalu Arya berharap, pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan berbagai kegiatan pariwisata melalui kalender event yang digelar secara rutin setiap tahun.
Menurutnya, keberadaan kalender event dapat menjadi salah satu strategi untuk menjaga geliat kunjungan wisatawan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Kami berharap pemerintah bisa mendukung event dan kalender event ini agar bisa terlaksana setiap tahun, lebih ditingkatkan, lebih dimeriahkan dan melibatkan masyarakat secara lebih luas,” ujarnya, Rabu 9 September 2026.
Arya juga menilai penyelenggaraan event budaya Inan Dowe memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Loyok.
Selain menjadi sarana pelestarian budaya, kegiatan tersebut turut membuka peluang ekonomi bagi para pengrajin dan pelaku usaha lokal.
Tingginya permintaan berbagai perlengkapan dan properti untuk kegiatan tersebut bahkan membuat para pengrajin kewalahan memenuhi pesanan.
“Dampak dari event Inan Dowe, dari yang pertama sampai yang kedua, sangat positif, terutama untuk melestarikan budaya dan dari sisi ekonomi. Pemesanan bahan untuk kelengkapan properti dari adik-adik maupun tamu undangan membuat masyarakat sampai kewalahan,” katanya.
Menurut Arya, kegiatan tersebut juga turut memperkenalkan Desa Loyok sebagai salah satu destinasi wisata berbasis kerajinan kepada masyarakat yang lebih luas.
Saat ini, wisatawan yang berkunjung ke Desa Loyok juga banyak berasal dari paket perjalanan wisata yang menghubungkan destinasi seperti Tetebatu dan Sembalun.
Dalam sejumlah paket perjalanan tersebut, Desa Loyok menjadi salah satu lokasi yang dikunjungi wisatawan untuk melihat secara langsung proses pembuatan kerajinan tangan masyarakat.
“Untuk sekarang ini sangat ramai. Dari pariwisata seperti Tetebatu dan Sembalun membuat program untuk ke Desa Loyok, melihat kerajinan, bagaimana prosesnya dan apa yang ditawarkan,” jelasnya.
Selain melihat hasil kerajinan, wisatawan juga diberikan kesempatan untuk belajar langsung membuat kerajinan berbahan bambu. Program tersebut menjadi bagian dari daily tour yang memungkinkan wisatawan mengenal lebih dekat proses pembuatan kerajinan tradisional masyarakat setempat.
Arya menjelaskan, proses pembuatan kerajinan bambu dimulai dari pemilihan bambu, kemudian dikupas atau dikerat, dipilah dan dibelah menjadi bagian-bagian kecil. Setelah itu, bambu dihaluskan sebelum masuk ke tahap penganyaman.
“Wisatawan bisa ikut belajar sendiri dari proses awal sampai jadi. Mulai dari bambu, mengulitinya, memilah, membelah menjadi kepingan, kemudian dihaluskan dan baru dianyam,” paparnya.
Tradisi menganyam geben, lanjut Arya, secara turun-temurun lebih banyak dilakukan oleh perempuan. Karena itu, para pengunjung umumnya akan lebih banyak melihat perempuan yang melakukan aktivitas menganyam di lingkungan masyarakat.
Untuk mendukung kegiatan wisata edukasi tersebut, para pengrajin kini banyak dikumpulkan di sejumlah art shop. Pola tersebut dinilai lebih efektif untuk melayani wisatawan rombongan yang datang bersama pemandu wisata.
“Sekarang para pengrajin biasanya dikumpulkan di tiap art shop. Kalau tamu rombongan, tidak mungkin diarahkan oleh guide untuk berpencar ke rumah-rumah pengrajin. Biasanya diarahkan ke art shop,” katanya.
Ke depan, pengelolaan wisata berbasis kerajinan di Desa Loyok diharapkan semakin berkembang, tidak hanya sebagai tempat membeli produk kerajinan, tetapi juga sebagai ruang edukasi budaya yang memungkinkan wisatawan melihat dan merasakan langsung proses pembuatan kerajinan tradisional masyarakat setempat.
