Sungai Nanga Gonis Diduga Tercemar, Warga Resah Temukan Ikan Mati Dan Keluhkan Gatal-Gatal

Editor: Admin author photo

Warga saat menunjukan pipa pembuangan limbag pabrik sawit, Selasa (1/9/2026). 
SuaraIndo.id  – Warga Nanga Gonis, Desa Merapi, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, mulai resah menyusul perubahan kondisi Sungai Nanga Gonis yang diduga mengalami pencemaran.

Air sungai yang terlihat menghitam disertai temuan sejumlah ikan mati dan membusuk menjadi perhatian masyarakat. Kekhawatiran semakin besar karena sungai tersebut selama ini dimanfaatkan warga dan alirannya terhubung hingga ke Sungai Kapuas.

Pantauan Tim Suara Kalbar pada Selasa (1/9/2026), air Sungai Nanga Gonis tampak berwarna lebih gelap atau kehitaman. Di beberapa titik, terlihat ikan mati mengapung di permukaan air, sementara sebagian lainnya telah membusuk di tepian sungai.

Warga berharap kondisi tersebut segera ditelusuri oleh pemerintah dan instansi terkait. Mereka meminta pemeriksaan tidak hanya dilakukan secara visual, tetapi juga melalui pengambilan sampel dan pengujian laboratorium untuk memastikan kualitas air serta sumber pencemaran.

Salah seorang warga, Leo Indra, mengatakan perubahan kondisi Sungai Nanga Gonis membuat masyarakat khawatir. Menurutnya, sungai tersebut memiliki peran penting bagi warga, terutama untuk mencari ikan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kami minta pihak berwenang, dalam hal ini pemerintah, bisa menelusuri dan menindak tegas sumber yang melakukan pencemaran,” kata Leo saat ditemui di lokasi.

Leo menegaskan, masyarakat tidak mempersoalkan keberadaan investor maupun aktivitas perusahaan selama kegiatan tersebut tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Menurutnya, persoalan lingkungan menjadi semakin penting di tengah kondisi kemarau ketika ketersediaan air bersih menjadi tantangan bagi masyarakat.

“Sungai Gonis ini dipakai masyarakat untuk kebutuhan dan mencari ikan. Nah, musim kemarau ini kita untuk mandi di Sungai Kapuas dan untuk konsumsi beli air galon tembus Rp12 ribu sampai Rp15 ribu,” ujarnya.

Menurunnya debit air pada musim kemarau, kata dia, membuat masyarakat semakin membutuhkan sumber air yang aman dan layak digunakan.

Kekhawatiran warga juga muncul setelah sejumlah masyarakat mengaku mengalami gangguan pada kulit.

Sari Santika (13), pelajar kelas II SMP, mengaku mengalami gatal-gatal hingga kulitnya mengalami pengelupasan. Ia mengatakan telah mendapatkan pengobatan, namun keluhan tersebut masih dirasakan.

“Kulit saya gatal-gatal dan terkupas. Sudah berobat tapi masih gatal,” ujar Sari.

Keluhan serupa disampaikan Sadiah. Ia mengatakan anaknya mengalami gatal-gatal pada bagian badan dan tangan sejak sekitar satu hingga dua bulan terakhir.

“Kami mandi memang di Sungai Kapuas, tapi terhubung juga Sungai Nanga Gonis yang di hulu diduga tercemar limbah,” katanya.

Namun, keluhan kesehatan yang disampaikan warga tersebut belum dapat dipastikan memiliki hubungan langsung dengan kondisi Sungai Nanga Gonis. Untuk memastikan penyebabnya diperlukan pemeriksaan medis serta pengujian kualitas air secara ilmiah.

Tim Suara Kalbar juga menelusuri bagian hulu Sungai Nanga Gonis. Di lokasi tersebut ditemukan sebuah pipa yang menurut keterangan warga diduga berkaitan dengan saluran pembuangan dari area pabrik kelapa sawit.

Di sekitar ujung pipa, tim turut menemukan seekor ular yang telah mati dan mengapung di aliran air.

Meski demikian, keberadaan pipa tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa telah terjadi pembuangan limbah oleh perusahaan tertentu. Keterkaitan antara pipa, perubahan warna air, kematian ikan dan keluhan warga masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Termasuk dugaan keterkaitan dengan aktivitas PT Makmur Prima Lestari (MPL), yang hingga kini masih membutuhkan verifikasi dari instansi berwenang melalui pemeriksaan lapangan, penelusuran saluran serta pengujian sampel air.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Sekadau bersama instansi teknis segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi Sungai Nanga Gonis.

Pengambilan sampel air dinilai penting untuk mengetahui apakah terdapat kandungan pencemar, jenis zat yang terkandung serta kemungkinan sumber pencemar apabila hasil pengujian menunjukkan adanya pelanggaran.

Pemeriksaan juga diharapkan dilakukan pada sejumlah titik, mulai dari bagian hilir hingga hulu sungai, termasuk menelusuri saluran-saluran yang bermuara ke Sungai Nanga Gonis.

Langkah tersebut dinilai penting agar dugaan pencemaran tidak berhenti pada asumsi, tetapi dapat dibuktikan berdasarkan data dan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jika nantinya ditemukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan lingkungan, warga berharap pemerintah mengambil tindakan sesuai aturan yang berlaku.

Sebaliknya, apabila hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa perubahan kondisi sungai bukan disebabkan oleh aktivitas perusahaan, masyarakat juga berharap pemerintah menyampaikan penjelasan secara terbuka agar tidak muncul spekulasi di tengah warga.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak PT Makmur Prima Lestari terkait dugaan pencemaran Sungai Nanga Gonis. Hasil uji laboratorium terhadap kualitas air sungai juga belum tersedia.

Bagi masyarakat Nanga Gonis, persoalan ini bukan sekadar mengenai perubahan warna air. Sungai merupakan bagian dari kehidupan warga, terlebih di tengah musim kemarau ketika kebutuhan terhadap sumber air semakin besar.

Kini, warga menunggu langkah pemerintah untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di Sungai Nanga Gonis. Jika pencemaran terbukti, penanganan dan penindakan diharapkan dilakukan segera. Namun jika dugaan tersebut tidak terbukti, masyarakat berhak memperoleh kepastian berdasarkan hasil pemeriksaan yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini