DULU, disaat masih dibangku sekolah, saat yang paling menyenangkan dan ditunggu oleh kebanyakan para siswa adalah manakala guru berhalangan hadir atau tak masuk kelas. Maka seketika suasana kelas mendadak riuh oleh kegembiraan para siswa dengan ragam polahnya. Hal lainnya yang paling menyenangkan adalah saat sekolah diliburkan, maka akan terlihat wajah-wajah para siswa yang sumriah karena senangnya, seperti terbebas dari beban yang lumayan berat.
Kini, dimasa pandemi Virus Corona (Covid-19) melanda dunia dan negeri ini, sekolah-sekolah pun terpaksa harus diliburkan dalam rentang waktu yang tak pasti kapan berakhirnya. Hingga saat ini, 2 Mei 2020, dihari peringatan pendidikan nasional, sekitar 2 bulanan lebih sekolah telah diliburkan, tanpa ada aktivitas pengajaran, atau interaksi langsung antara guru dan murid.
Model pembelajaranpun berubah drastis seketika tanpa persiapan yang matang. Sebagian murid pastinya lumayan senang karena tak harus bangun pagi pergi ke sekolah, para guru pastinya punya waktu lebih untuk mengerjakan hal lainnya karena tidak ke sekolah. Para orang tua murid mungkin sebagian rada terkaget karena harus mendapat kewajiban baru menjadi guru bagi anaknya atau harus mengawasi anaknya belajar di rumah.
Perubahan model pembelajaran yang drastis saat ini, tanpa persiapan yang cukup,. tentunya memiliki konsekwensi pada hasil yang dicapai. Dengan kata lain, pemerataan kualitas menjadi sulit untuk disamaratakan diseantero nusantara saat ini. Bagi sekolah-sekolah yang berada di perkotaan, dengan ketersediaan fasilitas jaringan internet yang baik. Adanya kepemilikan Gadget atau Laptop para siswa yang merata, jika pun siswa tidak masih bisa mengakses di Warnet-warnet, maka tentunya model pembelajaran berbasis online tidaklah menjadi suatu persoalan.
Hal yang berbeda dialami sekolah-sekolah di daerah yang wilayahnya kesulitan dalam mengakses jaringan internet, mungkin di kota kecamatan jaringan internet tersedia dan bisa dimanfaatkan. Namun tidak semua siswa yang bersekolah dikecamatan tersebut berdomisili di kota kecamatan, tetapi tempat tinggalnya menyebar dipelosok-pelosok desa yang terkadang jaringan internetnya kadang ada, kadang hilang. Lalu tak semua siswa memiliki Laptop atau HP Android. Sehingga otomatis model pembelajaran jarak jauh berbasis online berteknologi internet menjadi sukar untuk diterapkan secara maksiimal.
Beberapa guru yang penulis kenal, bertutur bahwa tak semua siswa bisa aktif dalam model pembelajaran saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh sang Guru, dengan menyiapkan materi di You tube, menyiapkan tugas-tugas lantas mensharekannya di group Whatshap kelas. Namun nyatanya hanya sebagian siswa yang aktif lainnya tak muncul, karena tempat tinggalnya jauh dipelosok.
Ditambah adanya himbauan di rumah saja semakin membuat siswa-siswa terpencil makin tak memiliki akses ke model pembelajaran saat ini. Adanya kebijakan meniadakan ujian dalam menentukan kelulusan siswa, juga menjadi batu sandungan lainnya dalam menakar kualitas pendidikan saat ini. Tanpa ujian tentunya menjadi sukar untuk menilai keberhasilan siswa dalam hal penguasaan pelajarannya.
Di masa pandemi Korona saat ini,. Dunia pendidikan kita, khususnya di daerah pedalaman yang minim akses internet, tentunya kualitas pendidikan akan jauh dari standard dan akan semakin tertinggal, jika hanya mengandalkan pada kesadaran para siswa dan model pembelajaran berbasis online yang sulit diterapkan secara merata. Mau tidak mau upaya konvensional seperti memberikan tugas serta mewajibkan siswa membaca buku-buku paket dan diawasi oleh para orang tua di rumah menjadi sebuah keniscayaan untuk tetap mempertahankan kualitas pendidikan yang berstandar.
Untuk itu memang, dukungan dari Dinas pendidikan serta sekolah dalam memfasilitasi buku-buku paket serta mendorong kesadaran orang tua mengambil peran aktif sebagai guru pengganti dirumah mutlak diperlukan. “Selamat Hari Pendidikan Nasikonal, 2 Mei 2020.
*Penulis: Pengurus Pokjar Universitas Terbuka (UT) Ngabang – Landak