Suaraindo.id— Sri Hartuti (42) seorang guru tidak tetap (GTT) di Kabupaten Ngawi kondisi rumahnya sangat memprihatinkan. Berdinding sekat kayu seadanya, berlantai tanah dengan ukuran rumah 2,5 x6 meter, guru sekolah dasar yang mengabdi selama 17 tahun itu bersama suami dan tiga anaknya hidup seatap dengan kambing ternaknya.
Masuk Desa Pandean, Dusun Suren, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Ngawi. Sri Hartuti yang hanya bergajikan Rp 350 ribu per bulan, tanah yang ia tempati sebagai rumah ternyata juga milik perhutani.
“Kami disini menumpang, tanah ini milik perhutani, kami membangun rumahpun seadanya, gaji hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan kambing itu harta tabungan yang kami miliki, kami jual jika ada kebutuhan mendadak, maaf kalau ada bau tak enak jika bertamu dirumah kami,” ucap Sri Hartuti saat ditemui awak media, Kamis (20/10/2021).
Sri Suharti mengatakan, meskipun keadaannya serba kekurangan, semangat untuk mengajar menjadi guru tidak tetap terus ia lakoni. Alasannya, dirinya tidak mau warga disekitarnya putus sekolah.
“Meskipun keadaan ekonomi saya juga rendah, saya harus tetap mengajar mereka, agar mereka tidak putus sekolah, saya selalu memberikan edukasi kepada anak-anak betapa pentingnya sekolah. Tidak jarang, keadaan saya yang selalu saya jadikan contoh untuk anak didik saya, agar mereka lebih bersemangat,” terangnya.
Sementara itu, Kades Pandean Agus Wiyono saat dikonfirmasi membenarkan, bahwa Sri Suharti merupakan warganya. Agus mengatakan, Sri Suharti merupakan sosok guru yang tak asing bagi warganya. Semangat berjuang untuk mencerdaskan warganya sangat tinggi.
“Banyak murid beliau yang sukses, ada yang jadi Polri, TNI hingga pengusaha berkat perjuangan beliau. Desa sebetulnya sudah mendaftarkan agar beliau bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah, tapi hingga kini belum ada kepastian,” ujar Agus Wiyono.