Suaraindo.id – Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kalimantan Barat terus mengusut kasus dugaan penyimpangan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar Subsisi yang melibatkan seorang pengusaha berinisial AS, warga Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu.
Menurut Kepala Bidang Humas Polda Kalimantan Barat, Kombes Pol Raden Petit Wijaya, saat ini 19 drum solar yang menjadi barang bukti masih diamankan di Mapolsek Boyan Tanjung. Sementara AS, pelaku utama dalam kasus ini, telah dibawa ke Polda Kalbar untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, karena kondisi kesehatan AS yang memburuk, pihak kepolisian belum bisa melakukan penahanan terhadapnya. Kabid Humas Polda Kalbar menyatakan bahwa proses hukum terhadap AS tetap berlanjut meskipun ia belum ditahan.
“Untuk kasus masih berlanjut, karena sakit pelaku belum kita tahan,” ungkapnya pada Senin (29/01/2024) pukul 13.19 WIB.
Kombes Pol Raden Petit juga menegaskan bahwa Polda Kalbar sedang menyelidiki dugaan penyimpangan BBM di empat daerah lainnya di Kalbar. Detail mengenai kasus-kasus tersebut akan diumumkan kepada publik secara terbuka.
Sementara itu, pengamat hukum, Herman Hofi, mengkritik keputusan polisi untuk tidak menetapkan AS sebagai tersangka dan menahannya, meskipun AS sedang sakit. Menurutnya, penahanan bisa dilakukan dengan pengawasan ketat dari pihak kepolisian, mengingat barang bukti yang telah disita.
HofI menyarankan bahwa AS bisa ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan, serta dikenakan hukuman sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Migas.
Pengawasan yang longgar dari Pertamina terhadap SPBU di Kalbar juga menjadi sorotan. Hal ini memicu kelanjutan penyimpangan yang berdampak negatif pada masyarakat. Menurutnya, pihak Pertamina harus bertanggung jawab atas pengawasan yang kurang ketat tersebut.
Kasus ini menimbulkan rasa ketidakadilan di masyarakat, yang telah merasakan dampak dari penimbunan BBM Subsidi. Hofi berharap penegakan hukum bisa memberikan keadilan bagi masyarakat yang terdampak.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS













