Suaraindo.id – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Ria Norsan memastikan berbagai langkah stabilisasi harga kebutuhan pokok terus diperkuat menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Fokus utama pemerintah adalah menjaga ketersediaan barang, menekan gejolak harga, dan memastikan masyarakat dapat berbelanja dengan aman dan terjangkau selama periode Nataru.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (Disperindag-ESDM) Kalbar, Dr. Syarif Kamaruzaman, menyampaikan hal tersebut usai mendampingi Menteri Perdagangan Budi Susanto dalam kunjungan kerja di Pontianak, Selasa (9/12). Ia menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor telah dilakukan sejak awal Desember melalui rapat bersama kementerian dan lembaga pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga aparat keamanan.
“Langkah ini bertujuan menyamakan strategi pengendalian harga, memperkuat ketersediaan barang pokok, serta memastikan perlindungan konsumen di seluruh kabupaten/kota,” ujar Syarif.
Pemantauan harga pada minggu pertama Desember menunjukkan sejumlah komoditas mengalami kenaikan di beberapa daerah, terutama cabai rawit merah, cabai merah besar, cabai merah keriting, dan bawang merah. Komoditas ini dikenal memiliki volatilitas tinggi karena dipengaruhi faktor cuaca dan kelancaran distribusi. Sementara itu, beras medium, minyak goreng, gula pasir, daging ayam, daging babi, dan telur ayam tercatat relatif stabil meski permintaan mulai meningkat menjelang libur akhir tahun.
Satgas Pengendalian Harga Beras juga terus melakukan pemantauan sejak 23 Oktober 2025. Hasilnya, beras medium kini cenderung stabil dan mulai berada pada Harga Eceran Tertinggi (HET) di beberapa wilayah. Namun, beras premium masih berada di atas HET karena pasokan lokal belum tersedia dan harga bahan baku masih mengikuti pergerakan dari luar Kalbar.
Sepanjang Januari hingga 9 Desember 2025, Pemprov Kalbar bersama Bulog serta pemerintah kabupaten/kota telah menggelar 113 kali operasi pasar. Total komoditas yang telah digelontorkan meliputi 492.860 kilogram beras, 98.572 liter minyak goreng, dan 98.572 kilogram gula pasir. Operasi pasar digelar merata di dua kota dan 12 kabupaten, dengan intensitas tertinggi terjadi pada Februari–Maret dan November–Desember.
Meski berbagai langkah sudah dilakukan, Syarif mengakui masih terdapat tantangan menjelang puncak Nataru. Di antaranya fluktuasi produksi cabai akibat cuaca, belum tersedianya produksi beras premium dalam daerah, peningkatan konsumsi pada minggu ketiga Desember, serta biaya logistik yang tinggi yang kerap memicu disparitas harga antardaerah.
Untuk menjaga stabilitas harga, Pemprov Kalbar mengusulkan peningkatan pengawasan distribusi untuk mencegah penimbunan, optimalisasi Satgas Pangan dan Satgas Beras, serta koordinasi percepatan pasokan komoditas hortikultura. Selain itu, pemerintah juga meminta dukungan penuh Forkopimda dalam menjaga keamanan distribusi barang kebutuhan pokok di lapangan.
Syarif berharap rangkaian langkah tersebut dapat menjaga keterjangkauan harga dan memastikan masyarakat Kalbar dapat merayakan Natal dan Tahun Baru dengan aman, nyaman, dan tanpa tekanan harga yang berlebihan.













