suaraindo.id – Panitia Nasional Natal 2025 menggelar rapat persiapan di Gedung Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jakarta (12/12). Rapat dipimpin Ketua Umum Natal Nasional 2025, Maruarar Sirait, yang kembali menegaskan arahan Presiden agar perayaan Natal tahun ini diselenggarakan secara sederhana, merakyat, dan berdampak. Dalam forum tersebut, setiap seksi panitia menyampaikan laporan program serta kebutuhan anggaran masing-masing.
Maruarar menekankan bahwa seluruh proses pengelolaan dana harus dilakukan secara terbuka. “Biaya atau pengeluaran harus transparan agar tidak menimbulkan kecurigaan,” ujarnya.
Selain membahas progres persiapan, dan program bantuan , Maruarar juga menjelaskan pelaksanaan rangkaian Seminar Natal Nasional 2025 yang digelar di sembilan kota bersama lembaga gereja dan perguruan tinggi.
Rangkaian seminar dibuka di Bandung melalui kerja sama dengan Universitas Parahyangan dan PMKRI. Kegiatan kemudian berlanjut di Medan pada 11 Desember 2025 bersama GMKI, PGIW, dan Universitas HKBP Nommensen; dan pada hari yang sama di Manado bersama IAKN Manado, UKIT, GMIM, dan SAG.
Seminar berikutnya diadakan di Palangkaraya pada 12 Desember 2025 bersama Keuskupan Palangkaraya, IAKN Palangkaraya, dan STIPAS Tahasak Danum Pambelum, lalu di Ruteng pada 13 Desember 2025 bersama Unika St. Paulus Ruteng dan Keuskupan Ruteng. Kegiatan dilanjutkan di Ambon pada 15 Desember 2025 bersama UKIM, GPM, IAKN Ambon, dan BKAG; kemudian di Toraja pada 18 Desember 2025 bersama UKI Toraja, Gereja Toraja, dan IAKN Toraja; serta di Merauke pada 19 Desember 2025 bersama Keuskupan Merauke dan PMKRI.
“Rangkaian seminar ditutup dengan seminar nasional utama di Jakarta pada 3 Januari 2026, bekerja sama dengan STFT Jakarta dan Kementerian Agama RI,” kata Maruarar.

Usai rapat, Ketua Harian Panitia, Pdt. Jason Balompapueng, didampingi Sekretaris Umum Raymond Simamora, memaparkan perkembangan persiapan sekaligus program sosial yang menjadi fokus utama pelaksanaan Natal tahun ini. Ia menegaskan bahwa panitia telah menetapkan alokasi 70 persen dana untuk bantuan sosial dan 30 persen untuk perayaan, agar perayaan Natal menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat, terutama di tengah situasi bencana di berbagai daerah.
Jason merinci sejumlah bantuan yang telah disalurkan, antara lain 1.000 paket sembako senilai Rp350 juta untuk warga terdampak erupsi Gunung Semeru, bantuan Rp550 juta untuk Kota Medan, Rp550 juta untuk Tapanuli Tengah, Rp550 juta untuk Aceh, serta Rp800 juta berupa ribuan paket sembako bagi masyarakat di Padang. Seluruh bantuan, menurutnya, telah diterima masyarakat dan sangat membantu kebutuhan mendesak di daerah terdampak.
Ia menambahkan bahwa seluruh pendanaan kegiatan Natal Nasional 2025 berasal dari donatur dan gotong royong sesama panitia, tanpa menggunakan dana pemerintah, APBN, maupun BUMN. Panitia juga sedang menyiapkan penyaluran 10.000 paket sembako senilai Rp10 miliar ke 10 provinsi, masing-masing menerima 1.000 paket bernilai Rp1 miliar. Bantuan akan disalurkan ke Papua, Maluku Utara, Maluku, NTT, Sulawesi Utara, Toraja, Kalimantan Barat, Nias, Mentawai, serta Sumatera Utara/Toba.
Selain itu, disiapkan bantuan pendidikan sebesar Rp10 miliar bagi 1.000 mahasiswa di seluruh Indonesia, masing-masing menerima Rp10 juta; serta 35 unit ambulans yang akan dibagikan dengan komposisi dua unit untuk komunitas Kristiani dan satu unit untuk warga non-Kristen di setiap titik. Panitia juga mengalokasikan Rp10 miliar untuk renovasi 100 gereja di berbagai daerah.
Untuk puncak perayaan Natal Nasional yang akan digelar pada 5 Januari 2026, panitia menyiapkan konsep perayaan yang lebih merakyat dan inklusif. Sebanyak 3.000 tamu kehormatan akan hadir, terdiri dari anak-anak Sekolah Minggu, guru Sekolah Minggu, guru sekolah Kristen, hoster, peserta umum, hingga penyandang disabilitas. Jason menilai konsep tersebut sebagai wujud keberpihakan panitia kepada masyarakat kecil, pelayan gereja, serta kelompok rentan. “Natal bukan sekadar seremoni, tetapi wujud kasih kepada sesama,” ujarnya.













