Sebulan Pascabanjir, Dua Madrasah di Barus Masih Lumpuh, Negara Ditunggu Hadir

  • Bagikan
Sebulan Pascabanjir, Dua Madrasah di Barus Masih Lumpuh, Negara Ditunggu Hadir

suaraindo.id – Lebih dari satu bulan setelah banjir besar melanda kawasan NU Barus, dua lembaga pendidikan yang berada dalam satu kompleks, Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga kini belum dapat kembali menjalankan kegiatan belajar-mengajar. Kerusakan fasilitas sekolah serta tumpukan lumpur yang masih tersisa membuat proses pemulihan berjalan lambat, sementara dimulainya Semester II semakin mendekat.

Kondisi tersebut terungkap dalam wawancara yang dilakukan di lingkungan MIS dan MTs NU Barus pada 28 Desember, saat kedua sekolah masih dalam proses pembersihan pascabanjir.

Kepala MIS NU Pasar Batu Gerigis, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Hendra Fauzi Tanjung, mengatakan banjir datang secara tiba-tiba akibat luapan air dari kolam dan saluran di sekitar sekolah. Arus air yang deras membawa lumpur masuk ke seluruh ruang kelas dan merusak hampir seluruh sarana pendidikan.

“Air masuk sangat cepat. Meja, kursi, lemari, buku-buku, dan perlengkapan sekolah rusak parah, bahkan banyak yang hanyut terbawa arus,” ujar Hendra.

Akibat kejadian tersebut, aktivitas sekolah lumpuh total. Bahkan selama dua hari pascabanjir, pihak sekolah tidak dapat menjangkau lokasi karena banjir juga menggenangi permukiman warga di sekitar sekolah.
“Sudah satu bulan anak-anak tidak bersekolah. Dengan kondisi seperti ini, tidak mungkin kami memaksakan proses belajar-mengajar,” katanya.

Foto: Kompleks Sekolah MIS NU dan MTS Nu

Kondisi serupa juga dialami MTsN yang berada di lokasi yang sama. Kepala MTsN NU Barus, Muhammad Isban Tanjung, menyatakan situasi sekolah saat ini sudah berada pada tahap darurat, terutama karena persiapan memasuki Semester II.

“Ini sangat emergensi. Kami berharap pemerintah segera memberikan bantuan pascabanjir, termasuk dukungan alat-alat berat untuk membersihkan lumpur yang masih menumpuk di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa banjir mengakibatkan hilangnya hampir seluruh sarana pendukung pendidikan. Buku pelajaran, perangkat komputer, perabot sekolah, serta dokumen administrasi rusak dan tidak dapat digunakan kembali. “Dampaknya sangat besar dan tidak mungkin dipulihkan hanya dengan tenaga manual,” katanya.

Hingga kini, bantuan yang diterima pihak sekolah masih terbatas dan sebagian besar berasal dari swadaya masyarakat. Bantuan datang dari warga sekitar, termasuk dari Jambi yang memberikan dukungan biaya operasional. Selain itu, sekolah juga menerima bantuan dari sembako dari PW Ansor serta bantuan seragam.

Dukungan juga datang dari anggota DPRD Provinsi, Rahmansyah Sibarani, yang turun langsung ke lokasi dan memfasilitasi kegiatan gotong royong bersama para guru, relawan, dan warga sekitar. Lumpur yang mengendap di area sekolah diangkut menggunakan mobil dump truck dan dibuang ke lokasi penampungan yang layak.
Terkait respons pemerintah, pihak sekolah menyebutkan bahwa pemerintah kecamatan telah meninjau lokasi terdampak. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut konkret dari pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi.

“Kami sudah menyampaikan permohonan bantuan alat berat agar lumpur bisa segera dibersihkan. Respons yang kami terima masih sebatas akan diupayakan, tetapi sampai sekarang belum ada kepastian,” ujar Muhammad Isban Tanjung.

Pihak sekolah menilai tanpa dukungan alat berat serta bantuan sarana dan prasarana dari pemerintah, proses pemulihan tidak akan berjalan optimal jika hanya mengandalkan tenaga manual. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang terhentinya kegiatan pendidikan dan memperbesar ketertinggalan belajar para siswa.

“Kami tetap berharap anak-anak bisa segera kembali belajar. Namun kami membutuhkan kehadiran nyata pemerintah dan dukungan semua pihak agar sekolah ini bisa segera pulih,” ujar Hendra.

  • Bagikan