suaraindo.id — Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dari Fraksi Partai NasDem, Rahmansyah Sibarani, terus menunjukkan pendampingan terhadap warga Barus sejak awal banjir melanda wilayah tersebut. Setelah terlibat dalam penanganan darurat dengan mendirikan dapur umum, menyalurkan sembako, serta memberikan pakaian baru bagi warga terdampak, Rahmansyah kini mendorong percepatan pemulihan sektor pendidikan yang masih terdampak parah.
Pada 28 Desember, Rahmansyah kembali turun langsung ke lokasi Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) NU Barus, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah. Di kompleks sekolah tersebut, ia mendapati kondisi lingkungan masih dipenuhi lumpur sisa banjir yang terjadi lebih dari satu bulan lalu. Sejumlah ruang kelas belum dapat digunakan, sementara perabot dan sarana pendukung pendidikan mengalami kerusakan berat.
Dalam kunjungan itu, Rahmansyah tidak hanya meninjau kondisi sekolah, tetapi juga memfasilitasi kegiatan gotong royong bersama para guru, relawan, dan warga sekitar. Lumpur yang mengendap di halaman serta ruang-ruang sekolah diangkut menggunakan mobil dump truck dan dibuang ke lokasi penampungan yang layak.
“Sekolah adalah fasilitas vital. Kalau pemulihan ini lambat, yang paling dirugikan adalah anak-anak. Pendidikan tidak boleh berhenti terlalu lama hanya karena penanganan pascabanjir berjalan lambat,” ujar Rahmansyah di sela kegiatan gotong royong.
Ia menilai, kondisi sekolah pascabanjir tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan tidak dapat hanya mengandalkan swadaya masyarakat. Menurutnya, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan, terutama dalam penyediaan alat berat serta perbaikan sarana dan prasarana pendidikan agar proses pemulihan berjalan lebih cepat dan optimal.
“Saya datang untuk melihat langsung kondisi di lapangan dan memastikan pembersihan bisa dipercepat. Gotong royong ini penting, tetapi tetap harus didukung alat berat dan bantuan pemerintah,” katanya.
Rahmansyah menegaskan, sebagai wakil rakyat sekaligus putra daerah Barus, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengawal penanganan pascabanjir agar tidak berhenti pada fase darurat semata.
“Sejak awal banjir, kita bersama-sama mendampingi warga. Sekarang fokusnya memastikan anak-anak bisa kembali belajar. Mereka tidak boleh kehilangan hak pendidikannya terlalu lama akibat bencana,” ujarnya.
Sebelumnya, pihak sekolah menyampaikan bahwa hingga kini bantuan pemerintah masih terbatas. Pemerintah kecamatan telah meninjau lokasi terdampak, namun tindak lanjut dari pemerintah kabupaten maupun provinsi masih dinantikan. Akibatnya, kegiatan belajar-mengajar belum dapat dilaksanakan karena kondisi sekolah belum layak digunakan.
Rahmansyah berharap langkah lapangan yang dilakukan bersama masyarakat ini dapat menjadi pemicu percepatan penanganan pascabanjir, khususnya di sektor pendidikan, sehingga sekolah dapat segera berfungsi kembali dan anak-anak Barus dapat melanjutkan pendidikan dengan aman dan layak.













