Sebuah gagasan untuk menemukan akar, menata masa kini, dan menjemput masa depan.
suaraindo.id – Tapanuli Raya, dari pesisir Sibolga dan Barus hingga lembah Danau Toba dan pegunungan Mandailing, bukan sekadar ruang geografis. Ia adalah ruang peradaban. Di tanah inilah jejak kuno perdagangan, spiritualitas, pengetahuan, dan pertemuan budaya Nusantara pernah bertemu, tumbuh, dan bertransformasi menjadi identitas yang kita kenal hari ini.
Tetapi peradaban bukan hanya sejarah, ia adalah arah. Setiap peradaban memiliki titik nol : momen ketika masyarakat memutuskan untuk menata kembali hubungan mereka dengan tanah, air, energi, ruang hidup, dan sesama manusia.
Bagi Tapanuli Raya hari ini, bencana banjir longsor, krisis ruang, perubahan iklim, dan tekanan ekologi telah menjadi panggilan keras untuk kembali pada titik nol peradaban itu.
Titik Nol sebagai Kesadaran
Titik nol bukan permulaan dari kehancuran, tetapi awal kesadaran baru. Kesadaran bahwa :
– Tanah dan air bukan sekadar sumber daya, tapi penyangga kehidupan.
– Ruang bukan sekadar lokasi, tapi tata kelola masa depan.
– Manusia bukan sekadar korban, tapi penggerak perubahan.
Dengan kesadaran ini, Tapanuli Raya dapat berdiri di titik nolnya sendiri, membaca konteks lama, lalu menata ulang arah baru.
Titik Nol sebagai Orientasi Pembangunan
Pembangunan di Tapanuli Raya harus meletakkan ketahanan ekologi dan keselamatan manusia sebagai pondasi.
Titik nol berarti :
– berhenti membangun dengan pola lama,
– memulai pembangunan berbasis risiko,
– menata ulang tata ruang pesisir, dataran banjir, dan lereng curam,
– memastikan bahwa setiap investasi jalan, bendungan, pariwisata, industri, permukiman— menghitung umur panjang lingkungan.
Di sinilah nexus thinking pangan–air–energi–ruang menjadi kompas orientasi pembangunan.
Titik Nol sebagai Ziarah Intelektual dan Spiritual
Tapanuli Raya memiliki warisan intelektual yang besar : Barus sebagai bandar kuno dunia, Mandailing dengan tradisi literasinya, Batak Toba dengan tradisi hukum adat dan sistem sosialnya, dan pesisir Sibolga sebagai simpul maritim Nusantara.
Titik nol peradaban adalah ziarah kembali pada akar-akar itu untuk menemukan:
– nilai-nilai ketahanan,
– etika ekologis,
– kehormatan terhadap tanah dan air,
– solidaritas antar-marga, antar-komunitas, antar-identitas.
Dari ziarah itu, tumbuh spirit baru untuk membangun kembali Tapanuli Raya secara bermartabat.
Titik Nol sebagai Tekad Kolektif Masa Depan
Tapanuli Raya dapat menjadi contoh Indonesia bagaimana:
– kawasan rentan bencana dapat bangkit,
– ekologi dapat menjadi fondasi ekonomi baru,
– budaya lokal dapat menjadi energi inovasi,
– pembangunan dapat berakar pada ilmu pengetahuan dan kearifan.
Titik nol bukan sekadar simbol, tetapi janji masa depan, bahwa dari tepi Samudera Hindia hingga puncak Bukit Barisan, Tapanuli Raya mampu menata peradabannya sendiri.
Oleh,
Eduard Berman Hutagalung
Wasekum GABEMA Tapteng Sibolga













