FKPT Kalbar Gelar FGD Cegah Radikalisme di Kalangan Pelajar, Soroti Ancaman Ruang Digital

  • Bagikan
FKPT Kalbar Gelar FGD dengan tema Aksi Bersama Cegah Radikalisme di Kalangan Pelajar di Kalimantan Barat. SUARAINDO.ID/SK

Suaraindo.id – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Kalimantan Barat (FKPT Kalbar) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Aksi Bersama Cegah Radikalisme di Kalangan Pelajar di Kalimantan Barat” sebagai respons cepat terhadap maraknya paparan paham radikal yang menyasar generasi muda melalui ruang digital.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Rabu (11/2/2026), dihadiri berbagai pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kementerian Agama, Densus 88, Polda Kalbar, BINDA, Kesbangpol Kalbar, KPAD, APKIN, hingga Dinas Pendidikan.

Diskusi tersebut menyoroti urgensi perlindungan pelajar yang dinilai menjadi kelompok rentan dalam fenomena “perang proksi ideologi” di era digital.

Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Kepala Bidang Perempuan dan Anak FKPT Kalbar, Umi Marzuqoh menegaskan bahwa pola penyebaran radikalisme kini semakin halus dan sulit terdeteksi.

“Radikalisme kini bergerak halus melalui algoritma, konten visual, dan jejaring daring yang menyasar usia anak sekolah. Pelajar merupakan kelompok yang rentan terpapar paham ini,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan secara komprehensif, tidak hanya melalui pendekatan keamanan, tetapi juga pendidikan dan keluarga.

“Perlu upaya memperkuat kesadaran pelajar, mempertahankan ketahanan keluarga sebagai benteng pertama, serta meningkatkan peran guru dalam meningkatkan literasi kebangsaan dan digital,” tambahnya.

Sementara itu, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Kolonel Sus Harianto yang hadir mewakili Direktur Pencegahan BNPT, mengapresiasi langkah FKPT Kalbar dalam menginisiasi forum diskusi tersebut.

Menurutnya, forum seperti ini penting untuk merumuskan langkah strategis baik di tingkat daerah maupun nasional.

“Forum ini diharapkan mampu melahirkan sinergi dalam upaya mencegah radikalisme. Kami berharap forum ini mampu memberikan masukan yang produktif dan konstruktif guna memberikan saran kepada pimpinan sebagai pertimbangan langkah-langkah strategis kita,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa radikalisme bukan hanya isu lokal Kalimantan Barat, melainkan persoalan nasional bahkan global yang membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Barat, Muhajirin Yanis saat membuka acara secara resmi menegaskan bahwa Kalimantan Barat merupakan “rumah besar” keberagaman yang harus dijaga bersama.

“Di provinsi ini kita hidup berdampingan dalam kemajemukan. Modal sosial ini adalah kekuatan besar yang harus terus kita rawat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan adanya ancaman nyata yang masuk melalui gawai para pelajar, terutama di fase pencarian jati diri.

“Radikalisme hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk kasat mata. Ia bisa masuk melalui ruang-ruang digital, media sosial, narasi kebencian, bahkan melalui pemahaman keagamaan yang sempit. Yang paling rentan terpapar adalah generasi muda kita,” jelasnya.

Muhajirin menekankan pentingnya peran guru agama dalam membentuk karakter, bukan sekadar mentransfer ilmu. Ia juga mengajak pelajar menanamkan pola pikir kritis dengan prinsip “saring sebelum sharing.”

“Pelajar perlu diajak memahami bahwa mencintai agama tidak bertentangan dengan mencintai bangsa,” pungkasnya.

FGD tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi penanganan radikalisme di kalangan pelajar di Kalimantan Barat. Di antaranya memperkuat kolaborasi mitigasi lintas sektoral, penguatan character building, serta program parenting bagi guru Bimbingan Konseling (BK) dan orang tua pelajar.

Melalui sinergi multipihak, FKPT Kalbar menegaskan komitmennya untuk memperkuat benteng ideologi generasi muda demi menjaga keutuhan bangsa di tengah tantangan radikalisme era digital.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
  • Bagikan