Suaraindo.id – Kelangkaan gas elpiji masih dirasakan masyarakat di Kabupaten Sambas. Kondisi tersebut dikeluhkan terutama oleh para anak kos yang sangat bergantung pada elpiji untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Salah seorang anak kos, Alvi, mengaku dirinya bersama rekan-rekannya kesulitan memperoleh gas elpiji dalam dua hari terakhir. Mereka bahkan harus berkeliling ke berbagai titik, baik di wilayah pinggiran maupun pusat kota Sambas, namun tidak membuahkan hasil.
“Selama dua hari terakhir kami sudah berkeliling ke banyak tempat untuk mencari gas, tapi selalu kosong. Gas baru kami dapatkan larut malam dengan harga Rp43.000 per tabung,” ujar Alvi, Senin (10/2/2026).
Ia menjelaskan, pada kondisi normal mereka biasanya membeli gas elpiji di kawasan Senyawan dengan harga sekitar Rp30.000 per tabung. Paling mahal, kata dia, berkisar Rp35.000. Namun saat kembali mendatangi lokasi tersebut, para pedagang menyebut stok telah habis akibat pasokan terbatas.
“Biasanya kami membeli gas di daerah Senyawan dengan harga sekitar Rp30.000, paling mahal Rp35.000. Tapi kemarin pedagang bilang stoknya habis dan sekarang gas memang sulit didapat,” katanya.
Menurut Alvi, kelangkaan ini sangat menyulitkan anak kos, khususnya yang masih berstatus pelajar dan belum memiliki penghasilan sendiri. Ketiadaan gas membuat mereka tidak bisa memasak sehingga harus mengeluarkan biaya lebih untuk membeli makanan di luar.
“Kami masih pelajar dan belum punya penghasilan. Ketika gas langka dan harganya naik, kami terpaksa mengurangi uang jajan karena tidak bisa memasak tanpa gas,” ungkapnya.
Ia menuturkan, harga gas yang akhirnya mereka peroleh naik sekitar Rp13.000 dari harga normal. Karena itu, ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar distribusi kembali lancar dan harga dapat stabil.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS













