SUARAINDO.ID —— Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Kabupaten Lombok Timur, Senin 9 Pebruari 2026.
Kunjungan tersebut dirangkaikan dengan peluncuran, kesiapan pengembangan bawang putih menuju swasembada nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Mentan mengapresiasi langkah cepat Gubernur NTB dan Bupati Lombok Timur dalam merespons kebutuhan pangan nasional, terutama pengembangan komoditas bawang putih.
Atas dasar tersebut, pemerintah secara resmi menetapkan NTB sebagai pusat produksi bawang putih Indonesia.
Mentan menargetkan NTB mampu mengelola lahan bawang putih seluas 25.000 hingga 50.000 hektare untuk menyuplai kebutuhan provinsi lain sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Target Pemerintah Pusat menghentikan impor dalam tiga sampai lima tahun ke depan.
Untuk swasembada nasional, Pemerintah membutuhkan sekitar 100.000 hektare.
Diantaranya, lahan padi seluas 7,4 juta hektare bisa di kelola dengan baik.
Dengam luas 100.000 hektare bawang putih seluruh Indonesia, diharpkan bisa dikelola dengan baik.
”Saya yakin Gubernur mampu menyelesaikan tugas ini,” ujar Amran optimistis.
Mentan menyoroti produktivitas bawang putih di NTB yang dinilai sangat menjanjikan.
Rata-rata produksi mencapai 20 ton per hektare, bahkan di beberapa lokasi mampu menembus 28 ton per hektare. Selain itu, kualitas bawang putih lokal NTB disebut jauh lebih baik dibandingkan produk impor.
“Kualitasnya sangat bagus, jauh melampaui barang impor. Karena itu kami memusatkan program pemerintah di sini,” tambahnya.
Untuk mendukung program tersebut, Kementerian Pertanian akan meluncurkan program khusus dengan dukungan penuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk pengadaan benih hingga 700.000 hektare secara nasional.
Pemerintah juga memberikan jaminan pascapanen bagi petani melalui penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
“Negara yang akan menjamin. Kami akan buat HPP agar harga tetap terjaga. Target kita jelas, tidak boleh ada petani yang rugi,” tegas Mentan.
Selain itu, Amran menekankan pentingnya sistem pertanian terintegrasi yang menghubungkan ketersediaan pakan, sektor peternakan, serta stabilitas harga jagung dari petani sebagai fondasi ketahanan pangan daerah.
Kepada para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Mentan memberikan motivasi agar mengubah pola pikir dan menjadi teladan dengan memiliki kebun sendiri serta bekerja tanpa banyak alasan.
“Jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tapi pikirkan apa yang bisa kamu berikan untuk negara. PPL bisa jadi Menteri, Gubernur, atau Bupati jika mau bekerja keras,” pesannya.
Menurut Mentan, tantangan terbesar adalah mengubah mindset. Namun jika pola pikir berubah, maka nasib pun akan ikut berubah.
“Negara ini akan maju kalau kita bilang ‘siap’ dan langsung bertindak tanpa banyak protes. Mari bergerak bersama membangun NTB dan Republik Indonesia,” pungkasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Mentan meninjau lantai jemur dan lahan tanam bawang putih di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Temggara Barat.
Pada kesempatan tersebut, Mentan berdialog langsung dengan petani dan penyuluh, sekaligus memberikan solusi atas sejumlah persoalan yang dihadapi di lapangan.













