Warga Dusun Tunas Lino Ditemukan Tergantung di Pohon Nangka, Polisi Duga Bunuh Diri

  • Bagikan
Polisi saat dki lokasi kejadian

Suaraindo.id – Warga Dusun Tunas Lino, Kecamatan Parindu, digegerkan dengan penemuan seorang pria berinisial A (42) yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon nangka di area kebun karet, Minggu malam (15/2/2026).

Korban pertama kali ditemukan oleh anaknya, NT (18). Saat itu, NT diminta ibunya untuk menyusul sang ayah yang belum juga pulang dari kebun hingga malam hari.

NT kemudian menuju kebun untuk mencari korban. Namun karena kondisi mulai gelap, ia kembali ke rumah dan meminta pamannya, DE (26), untuk menemaninya melakukan pencarian kembali.

Setibanya di kebun, NT melihat sandal milik ayahnya yang tergeletak di bawah pohon nangka. Merasa curiga, ia menengadah ke atas dan melihat korban dalam posisi tergantung di ketinggian sekitar empat meter. Keduanya panik dan segera kembali ke kampung untuk memberitahukan warga.

Sejumlah warga langsung menuju lokasi untuk memastikan informasi tersebut. Sebagian warga juga melaporkan kejadian itu ke Polsek Parindu.

Di lokasi, salah seorang warga memanjat pohon nangka dan melepaskan jeratan jaring keramba yang menjerat leher korban, sementara warga lainnya bersiaga di bawah untuk menahan tubuh korban saat diturunkan.

Setelah berhasil diturunkan, korban diketahui sudah dalam keadaan tidak bernyawa dengan kondisi leher membiru dan wajah pucat. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka menggunakan sepeda motor.

Kapolsek Parindu, Ipda N. Ling membenarkan adanya peristiwa tersebut. Setelah menerima laporan dari masyarakat, pihaknya langsung menuju tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pengecekan dan penanganan awal pada Senin (16/2/2026).

“Dari lokasi kejadian, kami mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu buah jaring keramba sepanjang kurang lebih 3,5 meter, satu helai kaos warna kuning hitam bertuliskan Quick Silver, serta satu celana pendek warna hitam yang dikenakan korban saat ditemukan,” jelasnya.

Hasil visum yang dilakukan oleh dr. Edy Sinuraya dari Puskesmas Pusat Damai menunjukkan adanya bekas jeratan yang jelas di bagian leher tanpa ditemukan tanda-tanda kekerasan atau luka lain pada tubuh korban.

Polisi menduga korban mengakhiri hidupnya sendiri. Dugaan tersebut diperkuat dengan adanya pesan terakhir korban kepada istrinya melalui aplikasi WhatsApp yang berisi permintaan maaf serta pengakuan terkait persoalan pribadi yang membebani secara psikologis.

“Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban yang mengarah pada keterlibatan pihak lain. Keluarga juga telah menerima peristiwa ini sebagai musibah dan membuat surat pernyataan penolakan autopsi. Kami menghormati keputusan keluarga setelah dilakukan penjelasan secara persuasif,” ungkap Kapolsek.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dalam menghadapi persoalan hidup. Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak ragu mencari bantuan dan berbagi cerita ketika menghadapi tekanan agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

Bagi masyarakat yang sedang mengalami tekanan psikologis, dianjurkan untuk menghubungi layanan kesehatan terdekat atau berbicara dengan tenaga profesional, tokoh agama, maupun keluarga guna mendapatkan dukungan dan pendampingan.

  • Bagikan