SUARAINDO.ID ——- Pimpinan Majelis Dzikir Al-Hisnul Mani’ NW Pancor Manis, Desa Dasan Lekong, Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timmur TGH M. Jamiluddin Syahid Al Yazidi, mengajak jamaah menjadikan momentum Idulfitri sebagai waktu yang tepat untuk saling memaafkan, membersihkan hati, serta mendoakan para pemimpin.
Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya kejernihan hati, keikhlasan, serta adab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk sikap terhadap pemimpin.
Menurutnya, mendoakan pemimpin merupakan bagian dari akhlak jamaah.
Ia mengutip petuah para pendiri tarekat syariah yang menempatkan doa untuk pemimpin sebagai prioritas, karena kebaikan pemimpin diyakini akan berdampak luas bagi masyarakat.
Dalam ceramahnya, TGH Jamiluddin menyampaikan kisah simbolik tentang Fir’aun dan iblis.
Fir’aun disebut tidak pernah meminta maaf, tidak pernah meminta pertolongan, dan merasa tidak pernah salah. Kisah tersebut dijadikan pelajaran tentang bahaya kesombongan dan pentingnya kerendahan hati.
Di momen hari Idulfitri, orang yang tidak mau saling memaafkan lebih hina daripada sifat kesombongan itu sendiri.
Karena Idulfitri adalah momentum Allah SWT membuka pintu maaf selebar-lebarnya bagi hamba-Nya.
Idulfitri bukan sekadar tradisi, melainkan kesempatan spiritual untuk memperbaiki hubungan antarsesama. Allah, katanya, memberi teladan dengan memberikan ampunan, sehingga manusia pun seharusnya saling memaafkan.
Lebih jauh, TGH Jamiluddin menekankan pentingnya memilih pergaulan yang baik. Ia menyebut bahwa di akhirat kelak, manusia akan dikumpulkan bersama orang-orang yang sering bersamanya di dunia.
“Maka dari sekarang, perbanyak kebersamaan dengan orang-orang baik. Karena pergaulan itu akan menentukan kebersamaan kita kelak,” katanya, minggu 29 maret 2026.
Dalam penutup tausiyahnya, ia mengutip pesan ulama tentang keikhlasan. Menurutnya, keikhlasan memang berada di hati, tetapi memiliki tanda yang dapat dirasakan.
“Tanda orang ikhlas adalah senang berbuat kebaikan dan gelisah ketika berbuat keburukan. Ikhlas tidak perlu diucapkan, tapi dirasakan dalam sikap dan perbuatan,” tutupnya.
TGH M. Jamiluddin Syahid Al Yazidi: Idulfitri Momentum Saling Memaafkan dan Mendoakan Pemimpin













