Produksi Sampah Sambas Capai 394,65 Ton per Hari, TPA Sorat Kelebihan Kapasitas

  • Bagikan
Salah satu tempat pembuangan sampah di Kecamatan Sambas. SUARAINDO.ID/SK

Suaraindo.id – Persoalan sampah di Kabupaten Sambas kian menjadi perhatian. Setiap hari, timbulan sampah di daerah tersebut mencapai sekitar 394,65 ton. Namun, dari jumlah itu baru sebagian kecil yang mampu ditangani, Rabu (4/2/2026).

Tingginya volume sampah dipicu padatnya aktivitas masyarakat, terutama di pasar tradisional, pusat perdagangan, serta kawasan wisata.

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) Kabupaten Sambas, Daeng Wahyudi Kumbri, mengatakan peningkatan timbulan sampah tidak lepas dari tingginya aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kondisi ini paling terlihat di kawasan pasar tradisional, pusat perdagangan, dan daerah tujuan wisata,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, sejumlah kecamatan menjadi penyumbang sampah terbesar di Sambas, yakni Selakau, Pemangkat, Semparuk, Tebas, Sebawi, Jawai, Teluk Keramat, serta Kecamatan Sambas yang merupakan pusat kegiatan ekonomi.

Menurutnya, padatnya aktivitas jual beli dan mobilitas masyarakat di wilayah tersebut berbanding lurus dengan peningkatan produksi sampah harian.

“Semakin tinggi aktivitas pasar dan perdagangan, maka jumlah sampah yang dihasilkan juga meningkat,” jelasnya.

Berdasarkan data pengukuran terbaru, komposisi sampah di Kabupaten Sambas masih didominasi sampah organik sebesar 57,9 persen. Disusul sampah plastik 20,6 persen, kertas 12 persen, dan jenis lainnya sekitar 9,3 persen.

Ia menilai dominasi sampah organik justru menjadi peluang untuk menekan timbulan sampah, salah satunya melalui pengolahan dari sumber seperti pembuatan kompos.

“Saat ini sistem pengelolaan sampah masih mengandalkan metode angkut dan buang ke TPA. Pengangkutan dilakukan setiap hari ke sejumlah TPA, termasuk TPA Sorat yang kini sudah mengalami kelebihan kapasitas,” ungkapnya.

Selain TPA Sorat, pemerintah daerah juga mengelola TPA lain yang berada di Salatiga, Jawai, Teluk Keramat, Galing, hingga Temajuk. Namun keterbatasan daya tampung serta minimnya sarana dan prasarana masih menjadi kendala.

Daeng Wahyudi mengakui, pengelolaan sampah di Sambas menghadapi berbagai tantangan, mulai dari luasnya cakupan layanan di 19 kecamatan, keterbatasan armada dan kontainer, kekurangan SDM, hingga rendahnya partisipasi masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Sambas melalui Dinas Perkim LH, lanjutnya, telah menyusun rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di kawasan TPA Sorat. Meski demikian, rencana tersebut masih dalam tahap perencanaan dan pengajuan.

Ia berharap pengelolaan sampah di Sambas ke depan dapat berjalan lebih optimal dengan dukungan seluruh pihak.

“Peran aktif semua elemen, terutama masyarakat, sangat dibutuhkan agar pengelolaan sampah dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan,” pungkasnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

  • Bagikan