SUARAINDO.ID ——- Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat rumput laut dunia guna mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya masyarakat pesisir.
Upaya tersebut mulai direalisasikan di Kabupaten Lombok Timur, melalui pembangunan International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) dan Laboratorium Spesialis Kedokteran Kepulauan.
Program ini diinisiasi sejak Mei 2025 oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Timur bekerja sama dengan Universitas Mataram, dengan dukungan penuh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Peletakan batu pertama dilakukan Wakil Menteri Diktisaintek, Stella Christie, yang dipusatkan di Desa Ekas Kecamatan Jerowaru, Kamis 12 Pebruari 2026.
Dalam sambutannya, Wamen Stella menekankan pentingnya dampak nyata dari pembangunan tersebut.
Peletakan batu pertama ini bukan sekadar seremonial. Pemerintah melalui Kemendiktisaintek telah menggandeng dua institusi riset dunia, yakni University of California, Berkeley dan Beijing Genomic Institute, yang dikenal terdepan dalam pengembangan riset, termasuk rumput laut.
“Tujuan riset adalah meningkatkan pengetahuan agar berdampak pada peningkatan pendapatan dan perekonomian kita. Kami juga sudah menggandeng industri nasional untuk membentuk ekosistem rumput laut,” tegasnya.
Stella menyebutkan, saat ini Indonesia merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pangsa pasar global. Nilai pasar rumput laut tropis mencapai USD 12 miliar atau sekitar Rp198 triliun dan diproyeksikan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi hilirisasi, mulai dari pupuk, plastik, hingga bahan bakar seperti bio-avtur.
Selain fokus riset, pemerintah juga melibatkan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk memperkuat aspek ekonomi dan ketenagakerjaan. Masyarakat sekitar pun diharapkan dapat mendukung sekaligus berpartisipasi aktif dalam pengembangan industri rumput laut di kawasan tersebut.
Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, berharap keberadaan ITSRC dan para peneliti dapat menghasilkan bibit rumput laut unggul yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.
Lombok Timur memiliki potensi besar dengan kualitas rumput laut yang selama ini belum dikembangkan secara optimal.
Pada kesemoatan tersebut, Bupati Lombok Timur menandatangani kerja sama dengan enam perguruan tinggi se-Lombok Timur, yakni ITSKES Muhammadiyah, Universitas Hamzanwadi, IAIH Pancor, UGR Lombok, STIT Palapa, dan Elkatari Institute.
Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat sinergi pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat guna mewujudkan Lombok Timur sebagai salah satu pusat pengembangan rumput laut nasional.
Sementara itu, Rektor Unram Bambang Hari Kusumo menyampaikan keyakinannya bahwa pembangunan ITSRC dan laboratorium beserta fasilitas pendukung akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Menurutnya, ITSRC dirancang sebagai pusat riset rumput laut tropis dunia yang akan berkolaborasi dengan peneliti internasional untuk mengatasi berbagai persoalan kualitas dan produktivitas.
Selain pusat riset, juga akan dibangun klinik kedokteran spesialis kepulauan yang disebut sebagai satu-satunya di Indonesia dan menjadi salah satu dari tujuh program pendidikan dokter spesialis di Unram.
Program ini tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga menyiapkan tenaga dokter dan sarana pendukung pelayanan kesehatan masyarakat.
“Enam bulan ke depan sudah mulai membangun. Lahan ini merupakan hibah Pemda Lombok Timur. Harapan kami, masyarakat di sini nantinya terlayani kesehatannya sekaligus berkembang sebagai sentra produksi rumput laut,” ujar Bambang.
Bagun Pusat Riset Rumput Laut Tropis Internasional di Ekas Buana Lombok Timur













