SUARAINDO.ID ———— Masyarakat Dusun Keselet Aren, Desa Tetebatu Selatan, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, mulai mengembangkan pengelolaan hasil alam pohon aren melalui inovasi produk dan kemasan.
Kepala Wilayah Keselet Aren, Abdullah, mengatakan pengolahan air aren hasil sadapan petani setempat, sebagai bagian dari peningkatan nilai jual dan kesejahteraan masyarakat.
Selama ini masyarakat hanya menjual hasil aren dengan cara tradisional.
Namun kini mulai dilakukan perubahan model produksi menjadi lebih beragam dan bernilai ekonomi lebih tinggi.
“Dulunya masyarakat menjual secara tradisional. Sekarang kami mulai mengubah model produksi agar lebih inovatif dan beragam,” ujarnya.
Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk mendukung rencana pembentukan ekowisata Keselet Aren.
Menurut Abdullah, program tersebut mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Tetebatu Selatan, dan sempat dikolaborasikan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).
“Kami berharap masyarakat mengikuti langkah-langkah yang sedang kami rancang, terutama dalam mendukung ekowisata,” katanya.
Saat ini, berbagai produk olahan dari air aren yang telah dihasilkan masyarakat, di antaranya gula batok, sirup aren, gula semut, gula gambir, dan dodol aren.
Produk-produk tersebut masih dipasarkan secara terbatas, terutama kepada konsumen sekitar, yang datang langsung membeli karena kebutuhan akan produk aren cukup tinggi.
Abdullah menjelaskan, dari sisi ekonomi, pengolahan dan pengemasan produk memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan menjual bahan baku.
“Jika dijual langsung sebagai bahan baku, nilainya relatif rendah. Tapi jika diolah dan dikemas, nilainya bisa meningkat signifikan,” jelasnya, saat ditemui di dusun keselet aren, jumat 26 desember 2025.
Sebagai contoh, produk aren yang sebelumnya dijual sekitar Rp125 ribu per lonjor bambu besar, namun setelah diolah dan dikemas ulang bisa mencapai Rp300 ribu.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama dari pola pikir sebagian masyarakat yang cenderung memilih cara cepat dengan menjual nira aren secara langsung
“Hambatannya ada pada edukasi dan inovasi. Masyarakat masih berpikir praktis, air nira turun langsung dijual dapat uang,” ujarnya.
Terkait pembinaan, Abdullah menyebutkan bahwa pemerintah desa dan pihak pemberdayaan masyarakat pernah memberikan pelatihan pengolahan aren.
Namun, belum semua masyarakat terlibat aktif sebagai pelaku usaha, sebagian masih sebatas pemilik pohon aren dengan sistem bagi hasil.
Ke depan, pihaknya berencana menyusun aturan adat (awik-awik) untuk menjaga keberlanjutan pohon aren dan keselamatan penyadap, terutama terkait kondisi cuaca.
“Untuk kualitas, cuaca tidak terlalu berpengaruh. Produksi tetap stabil,” katanya.
Wilayah Keselet Aren sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan dengan kepemilikan, dan potensi pohon aren terbesar di Desa Tetebatu Selatan.
Potensi tersebut diharapkan dapat dikembangkan, sebagai identitas dusun sekaligus penggerak ekonomi masyarakat setempat.













