Revitalisasi Sekolah di Lombok Timur Dapat Dukungan Tiga Sumber Dana, Nilai Capai Rp95 Miliar

  • Bagikan

SUARAINDO.ID ——- Bupati bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur meresmikan program bantuan revitalisasi sekolah yang bersumber dari tiga skema pendanaan berbeda pada tahun anggaran 2025, di SDN 1 Lenek Duren Kecamatan Lenek, kamis 29 Januari 2026.

Total nilai bantuan yang dikucurkan mencapai sekitar Rp95 miliar dan menyasar puluhan satuan pendidikan dasar dan menengah.

‎Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, Nurul Wathoni, menjelaskan sumber bantuan tersebut berasal dari pemerintah pusat, APBD daerah, serta lembaga donor internasional.

‎Hari ini Pemerintah meresmikan bantuan revitalisasi yang berasal dari tiga sumber. Pertama dari Kemendikdasmen sekitar Rp66 miliar tahun anggaran 2025.

Kemudian dari APBD Lombok Timur sebesar Rp16 miliar. Selain itu ada bantuan dari Happy Hearts yang didukung Australia dengan nilai sekitar Rp13 miliar.

‎Program revitalisasi dari Kementerian dilaksanakan dengan sistem swakelola.

Sementara bantuan dari Australia dikerjakan langsung oleh lembaga pelaksana, sehingga sekolah hanya sebagai penerima manfaat.

‎Untuk bantuan dari Australia, seluruh proses pembangunan ditangani langsung oleh Habitat. Sekolah hanya menerima manfaat. Tahun 2025 sekitar 13 titik.

‎”Semester pertama 2026 mereka sudah berjanji membantu lagi untuk enam titik, dan kemungkinan ada penambahan fasilitas di semester kedua,” katanya.

‎Menurutnya, bentuk revitalisasi mencakup perbaikan gedung sekolah serta penambahan fasilitas penunjang seperti kamar mandi siswa, ruang UKS, dan perpustakaan, menyesuaikan kebutuhan masing-masing sekolah.

‎SMPN 1 Satap Lenek terdapat dua jenis bantuan revitalisasi sekaligus, yakni dari program Australia dan dari Kementerian.

‎Nurul Wathoni menambahkan, seluruh proyek revitalisasi 2025 telah rampung per 31 Desember dan mulai dimanfaatkan pada awal Januari 2026.

‎Terkait usulan perbaikan sekolah rusak, pihaknya telah mengajukan lebih dari 70 sekolah dari jenjang SD, SMP, TK, dan PAUD.

Namun saat ini baru data SD yang selesai diverifikasi oleh sistem pusat.

‎“Yang sudah terbaca di sistem untuk SD sekitar 22 sekolah. SMP, TK, dan PAUD masih dalam proses penilaian. Verifikasi dilakukan oleh tim perguruan tinggi berdasarkan data Dapodik dan pengecekan lapangan. Dinas hanya mendampingi,” jelasnya.

‎Jumlah sekolah rusak di Lombok Timur mencapai lebih dari 70 unit, dan angka tersebut terus bertambah akibat faktor bencana.

Belum lama ini, kerusakan tambahan terjadi di lebih dari empat sekolah akibat angin kencang dan hujan lebat.

‎“Setiap tahun ada penambahan kerusakan karena bencana, sehingga kita tidak bisa menetapkan target tetap. Yang bisa kita lakukan adalah terus mengusulkan ke berbagai pihak agar penanganan bisa dipercepat,” ujarnya.

‎Untuk program revitalisasi dari pusat, penentuan sekolah penerima sepenuhnya berbasis sistem dan hasil survei tim independen. Dinas hanya mengusulkan titik lokasi, sementara kelayakan ditentukan oleh tim pusat.

‎Nurul Wathoni menyebutkan, adanya informasi awal terkait kemungkinan pengurangan kuota bantuan pada 2026, namun pemerintah daerah masih berupaya melakukan lobi agar kuota bisa ditambah.

‎Perencanaan hingga konsultan sudah mendapat bimbingan teknis dari tim pusat. Penandatanganan MoU juga dilakukan di pusat.

‎”Kepala sekolah penerima bantuan dipanggil langsung ke Jakarta. Peran kami di daerah lebih pada pengawasan,” pungkasnya.

Penulis: nanangEditor: Redaksi
  • Bagikan