Maruarar Sirait Paparkan Komitmen Penguatan SDM dan Program Sosial dalam Seminar Nasional di UPH

  • Bagikan

suaraindo.id – Rangkaian Seminar Nasional bertema “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga (Mat 1:21–24)” kembali berlanjut di Grand Chapel Universitas Pelita Harapan (UPH) dan dihadiri sekitar 3.000 orangpada Selasa (3/2). Seminar ini merupakan kegiatan ke-10 yang diselenggarakan Panitia Natal Nasional melalui roadshow di berbagai kota di Indonesia.

Menteri PKP sekaligus Ketua Umum Panitia Natal Nasional, Maruarar Sirait, menegaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan dilaksanakan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Sekitar lima bulan lalu, Bapak Presiden memanggil saya ke istana menunjuk saya jadi panitia natal. Saya langsung tanya apa arahan presiden, diminta laksanakan sederhana dan berdampak,” ujar Maruarar.

Ia menjelaskan bahwa seluruh rangkaian Natal Nasional diupayakan sederhana, berdampak, dan terbuka. Program-program yang dijalankan langsung menyentuh masyarakat, antara lain penyaluran 20 ribu paket sembako. Sumber bantuan berasal bukan hanya dari umat Kristen, tetapi juga dari umat Buddha dan Islam. “Itulah Indonesia yang gotong royong,” kata Maruarar. Program lain meliputi beasiswa, penyediaan kursi roda, operasi bibir sumbing, renovasi gereja, pembangunan gedung Sekolah Alkitab, dan lain-lain.

Menariknya, untuk audiens yang didominasi mahasiswa UPH, Maruarar menjanjikan bantuan modal usaha sebesar Rp200 juta per orang untuk 10 mahasiswa yang ingin merintis usaha.

“Kita ingin menciptakan James-James baru dari kampus ini. Dua bulan lagi saya datang, silakan pimpinan UPH memilih mahasiswa berpotensi,” ujarnya yang disambut tepuk tangan peserta.

Seminar menghadirkan dua narasumber: Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto dan James Riady, dipandu Prof. Binsar Pakpahan sebagai koordinator seminar.

Prof. Brian menyampaikan bahwa kemajuan suatu negara sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia. “Tidak ada negara maju tanpa tersedianya SDM yang terampil. Karena itu pendidikan itu penting,” ujarnya.

Ia kemudian mengisahkan kembali seorang mahasiswa asal Sumut bernama Amron, yang diterima di Teknik Fisika ITB. Amron hampir gagal berkuliah karena keterbatasan ekonomi tetapi tetap berangkat ke Bandung, dan akhirnya menjadi salah satu penerima beasiswa yang pada saat itu diurus langsung oleh Prof. Brian.

“Jadi kita memberi hal kecil—beasiswa—selalu diingat dan sungguh berarti. Saya sudah lupa. Ketika dia launching parfum dia undang saya. Dia bilang sangat ingat karena beasiswa diberikan bisa hingga jadi pengusaha parfum pertama asal Indonesia. Intinya investasi pendidikan sesuatu tidak ternilai harganya,” ujar Prof. Brian kepada mahasiswa.

Sementara itu, James T. Riady dalam paparannya mengisahkan kehidupan awal berkeluarganya. Ia menceritakan pertama kali diperkenalkan kepada Ailin—yang kemudian menjadi istrinya—pada usia 34 tahun.

“Setiap hari saya cari dia, hari ke-60 ya tunangan. Malam usai pesta sudah ribut sampai honeymoon. Bahkan tahun ke-8 kita di mata Tuhan sudah cerai,” kisahnya. Ia menambahkan bahwa pesan ibunya agar tidak mengikuti gaya hidup Barat yang menghindari pernikahan selalu menjadi pengingat.

Menurut James, statistik menunjukkan 50 persen pasangan bercerai dalam 10 tahun, termasuk di kalangan Kristen. Hanya tradisi timur yang masih kuat sehingga perpisahan sering kali tertunda.

Pada tahun 1990, memasuki tahun ke-8 pernikahan, James berpisah tempat tinggal dengan keluarga. Ia tetap berada di Jakarta sementara istri dan anak-anak tinggal di Los Angeles.

“Saya depresi. Suatu hari, 18 September 1990, satu sore saya tutup pintu, saya berdoa saja: Tuhan tolong saya karena saya depresi. Saya nangis tapi sukacita. Saya harus memenangkan istri, anak dan kakak saya. Itu titik Tuhan kerjakan keluarga kembali bersatu. Saya mundur dari 50 perusahaan sebagai dirut demi keluarga,” tuturnya. James kemudian mencari suasana baru dan pergi ke Papua.

Ia menambahkan bahwa pemahaman tentang keluarga harus dimulai dari pernikahan karena pernikahan adalah ide Tuhan. “Bangsa kita harus kuat, gereja kuat dimulai dari keluarga kuat. Saya senang sekali Natal Nasional bicara keluarga. Anak saya lama tidak menerima saya, hubungan sudah antipati, tapi kita jangan kehilangan harapan,” ujarnya.

Rektor UPH, Prof. Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., menyampaikan bahwa seminar nasional ini memberi manfaat besar bagi UPH. “Suatu kehormatan bahwa UPH menjadi tuan rumah. Kita menyadari natal bagi keluarga penting, melalui keluarga harus memberikan pendidikan,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Menteri PKP juga menyerahkan lima unit mobil ambulans kepada Gereja HKBP Cikarang, serta perwakilan Buddha dan Islam.

  • Bagikan