Sekilas Info

Covid-19

op 3 Tekno Berita Kemarin: Covid-19 di Asia Tenggara, Semburan Lumpur di Bekasi

Seorang pria menggunakan pelindung wajah yang terbuat dari galon bekas untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19 saat acara Minggu Palma di Manila, Filipina, 5 April 2020. REUTERS/Eloisa Lopez

- Top 3 Tekno Berita Kemarin diawali dari kabar Covid-19 di Asia Tenggara, antara Indonesia dan Filipina. Artikel ini menjadi yang terpopuler sepanjang Rabu 9 September 2020, menyambung artikel sehari sebelumnya tentang larangan datang yang ditetapkan banyak negara kepada warga Indonesia terkait penanganan wabah Covid-19.

Artikel kedua terpopuler mengenai kesaksian seorang geolog atas bencana semburan Lumpur dan gas di Kranggan, Bekasi, pada Sabtu 5 September 2020. Menurutnya, peringatan telah disampaikannya akan bahaya di perbatasan wilayah Jakarta-Bekasi itu delapan tahun lalu. Kalaupun ada yang disesalkannya adalah bahwa saat iru dia hanya menyampaikannya kepada pihak DKI.

Berita terpopuler ketiga sepanjang Rabu kembali diisi soal Covid-19. Tim peneliti di Hong Kong mengatakan kalau memeriksa Tinja bisa lebih efektif dalam mendeteksi virus corona penyebab penyakit itu ketimbang swab test di saluran pernapasan atas yang selama ini dilakukan.

Berikut ini Top 3 Tekno Berita Kemarin selengkapnya,

1. Covid-19 di Asia Tenggara: Filipina Paling Tinggi, Indonesia Lebih Mematikan

Filipina dan Indonesia menjadi dua negara terburuk yang dilanda wabah Covid-19 di kawasan Asia Tenggara berdasarkan data yang telah dilaporkan hingga, Rabu 9 September 2020. Sepanjang Selasa lalu keduanya juga melaporkan jumlah kasus baru yang hampir setara yakni 3.281 kasus positif di Filipina dan 3.046 di Indonesia.

Seperti diketahui, jumlah kasus baru hari itu membuat total kasus positif Covid-19 di Indonesia tembus menjadi 200.035 orang. Indonesia berada tepat di bawah Filipina dalam peta penularan dunia yang dibuat Johns Hopkins University, AS.

Dalam peta itu Indonesia ditempatkan di urutan 23 negara penyumbang kasus terbanyak Covid-19 di dunia yang kini telah mencapai 27,5 juta kasus. Filipina di urutan 22 dengan jumlah kasus terkonfirmasi yang dilaporkan sebanyak 241.987. Namun jumlah kasus kematian di Indonesia jauh lebih besar daripada Filipina, yakni 8.230 orang berbanding 3.916.

2. Jakarta Sudah Tahu Bahaya Semburan Lumpur di Bekasi?

Bahaya semburan lumpur dan gas di daerah Kranggan, Jatisampurna, Bekasi, pada Sabtu 5 September 2020, telah diprediksi dan diperingatkan sewindu lalu. Sayangnya, saat itu, ancaman bahaya semburan karena adanya lapangan migas yang dangkal tersebut hanya dipresentasikan kepada Pemerintah DKI Jakarta.

"Saya presentasikan ke Pemerintah Jakarta, November 2012," kata mantan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Andang Bachtiar, lewat unggahannya di akun pribadi media sosial Facebook. Unggahan itu digunakannya untuk menjawab pertanyaan dari Tempo.co, Selasa 8 September 2020.

Lulusan Geology Department Colorado School of Mines, Golden, Colorado, Amerika Serikat, itu menggambarkan, lokasi semburan di Kranggan terletak 2-3 kilometer arah tenggara dari area lapangan migas Jatinegara, di perbatasan Jakarta-Bekasi. Lapangan migas itu tepatnya wilayah Cipayung, Kranggan, dan Cibubur, yang sudah terdeteksi pada 2012.

3. Peneliti Hong Kong: Sampel Tinja Bisa Dipakai Deteksi Covid-19

Para peneliti dari Chinese University of Hong Kong menunjukkan bahwa virus corona Covid-19 dapat bertahan di usus, bahkan setelah virus dibersihkan dari saluran udara. Hal ini membuat tinja atau kotoran bisa menjadi cara yang lebih baik untuk mendeteksi virus daripada penyeka hidung secara tradisional.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal medis GUT tersebut mengatakan virus dapat terus menginfeksi saluran pencernaan bahkan jika pasien tidak menderita gejala di bagian sistem pencernaan. Para peneliti melihat sampel tinja dari 15 pasien Covid-19 dan menemukan infeksi virus usus aktif pada tujuh pasien, bahkan tanpa gejala di bagian sistem pencernaan.

Tiga dari mereka terus menderita infeksi virus usus aktif selama enam hari setelah sampel pernapasan mereka negatif terkena virus. "Temuan ini menunjukkan bahwa sampel tinja mungkin cara yang lebih baik untuk mendeteksi virus," tulis para peneliti, seperti dikutip Fox News, Selasa, 8 September 2010.

Penulis: Teras
Editor: Heni Sutriati

Baca Juga